Senin, 13 Januari 2014

SELODOR TELAH TANGGAL
“rek ayo selodoran”
“arek-areke podo ndek ndi, mek sitik ngene mosok arep selodoran?”
“iyo sek, ngenteni. Liyane jare arep rene mari mangan”
“sek tak itung, siji, loro, telu, papat. Sek kurang papat maneh, lek nggak telu yoe nggak opo-opo”
“iyo, mari iki teko. Lah iku arek-areke. Lebih teko telu malah”
“rek, jare selodoran?ayo ngenteni opo?papat-papat disek ayo”
“yoe ngenteni kon podo rek, ayo-ayo mumpung maghrib sek adoh”.
Dialek Jawa tersebut sering sekali terdengar ketika usiaku dan teman-teman sebayaku setingkat kelas 3 sampai kelas 1 SMP. Rutinitas harian tersebut selalu kami lakukan setelah waktu ashar tiba hingga menjelang matahari perlahan-lahan singgah di ufuk barat. Selodor yang membuat kami menjadi teman yang solid. Selodor yang telah mengajarkan kami berbagai nilai positif baik secara langsung maupun tidak, memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan kami. Ya, kerja keras, konsentrasi, kerjasama, lapang dada, teliti, dan nilai-nilai positif yang lain telah tercampur menjadi satu dalam sebungkus coklat manis untuk anak-anak seumuran kami saat itu.
Kegembiraan anak-anak pemain selodor selalu diikuti oleh senyum ramah mentari di sore hari. Selodor, merupakan istilah permainan di daerah kami. Bentuk permainan ini sangat sederhana. Pertama yang harus dilakukan adalah menentukan jumlah pemain, biasanya pemain terdiri dari 3 sampai 4 orang penjaga daerah terlarang dan dengan jumlah yang sama berperan sebagai penerobos benteng yang dijaga oleh mereka yang bertugas mengamankan medan. Medan yang digunakan berada di atas tanah lapang yang luasnya cukup untuk menggambar pesegi panjang dengan batang kayu atau sebuah batu. Persegi panjang tersebut kemudian dibagi menjadi 3 sampai empat pesegi panjang lagi, sesuai dengan jumlah pemain yang ada. Setelah medan jadi, maka secara bergantian sesuai dengan kesepakatan, satu regu (3-4 orang) bertugas menjaga medan agar lawan tidak bisa menerobos hingga ke persegi terakhir, dan regu lain menjadi penerobos persegi demi persegi yang didalamnya telah berdiri penjaga medan yang siap menerkam. Ya begitulah sedikit gambaran tentang permainan selodor di kampung kami. Permainan selodor yang kami lakukan dapat memakan waktu berjam-jam sampai langit melukiskan tinta biru kombinasi oranyenya dihadapan kami. Ketika kami bosan hanya sekedar bermain selodor, kami biasanya mengganti dengan permainan lain, semisal petak umpet, ular-ularan, atau permainan tradisional yang lain. Selodor mungkin 10 tahun yang lalu dikenal luas hampir diseluruh daerah dengan nama berbeda-beda. Tetapi saat ini, wujud nyata selodor sulit ditemukan lagi, atau bahkan sudah tidak dikenal lagi oleh adek-adek kecil kita saat ini.
Selodor yang dulu menjadi permainan prioritas kami, kini tidak lebih dari permainan ndeso yang hanya mengotori. Debu, tanah, menjadi kambing hitam yang selalu dijatuhi vonis oleh orang-orang tua gaul kepada sang buah hati. Tanah lapang tempat selodor dilakukan kini telah berubah menjadi sebuah tempat yang sering kita jumpai akhir-akhir ini. Ada yang disulap menjadi play station centre atau warnet-warnet dengan hiasan-hiasan desain kartun menarik yang bertuliskan game online. Bagaimanapun pesulap-pesulap master itu telah berhasil menghipnotis berbagai kalangan terutama kalangan usia anak. Selodoran kini telah berubah menjadi permainan online berupa poker, final fantasy, counter stike, point black, dan permainan-permainan teknologi canggil yang lain.
“rek ayo engko sore njupuk paketan 2 jam yoeh”
“oke ayo siap. Duwur-duwuran level”
“engko koncoan ae, aku arep tuku senjata maneh sing lebih enak ben musuh-musuhku kewalahan”
“iyo wes poko’e ndang mangan terus ndek warnet, tak nteni ndek warnete mas jo yoeh. Mumpung promo paketan”
Dialek-dialek itu saat inipun telah berubah. Aku perhatikan ucapan-ucapan mereka ketika tak sengaja tubuh ini berpapasan dengan sosok-sosok bocah kecil disamping kiri dari arah berlawanan. Aku sendiri merasa malu dengan mereka. Dengan usia yang sudah tidak dapat dikatakan kecil atau bahkan remaja lagi, aku tidak paham dengan apa yang mereka ucapkan. Apa aku telalu gaptek? Ataukah karena ketidaktertarikanku menyentuh game online telah membuatku kurang gaul?

Masa bodoh lah. Keinginan kuatku tetap satu. Aku ingin menghidupkan kembali permainan tradisional yang selama ini telah terlupakan dan telah tersingkirkan. Aku ingin menyadarkan betapa meruginya ketika anak-anak itu harus merogoh kocek yang mereka dapatkan dari hasil memperkosa kantong-kantong orang tua mereka demi game online, sementara bayak permainan menarik yang tidak membutuhkan biaya dapat mereka lakukan bersama-sama. Selodor tetaplah selodor. Selodor kini telah menjadi wacana asing yang telah ditanggalkan. Selodor telah menyerupai legenda rakyat yang hanya terjadi satu kali saja, yaitu masa lalu. Selodor, semoga suatu hari nanti kau temukan hidupmu lagi. Semoga anak-anak kecil itu dapat menginjak-injak garis yang menjadi ciri khasmu itu. Selodor. . .
SOTO CERMIN PLURALITAS
“Siang-siang gini enaknya makan dimana ya?”
“Hmm…gimana kalau kita mampir ke warung soto Lamongan?”
“Ide yang bagus! Tapi aku ingin coba soto Banjar yang ada di dekat perempatan A. Yani.”
“Ya, kalau begitu aku ikut aja deh”
“Tapi nggak apa-apa kan? Soalnya aku pengen cari tau apa sih bedanya”
“Iya nggak apa-apa kok, aku udah tau bedanya. Ayo berangkat!”
Kaki-kaki letih kami sepulang kuliah terarahkan menuju warung soto Banjar yang telah kami rencanakan. Letaknya tidak terlalu jauh dari kampus kami, hanya butuh waktu 10 menit untuk berjalan kaki. Matahari tidak dapat memancarkan sinarnya dengan bebas karena sang awan masih berusaha mendekapnya dengan erat. Musim-musim ekstrim seperti ini memang tidak bisa diduga kapan panas dan hujan tiba. Matahari dan awan selalu berebut peran setiap harinya. Jatah periodik yang seharusnya mereka perhatikan kini hanyalah menjadi wacana di buku-buku pelajaran belaka. Mereka bebas muncul kapan saja semau mereka. Suasana semi panas dan semi mendung seperti ini menciptakan hawa gerah yang luar biasa, sehingga dalam hal makanan, makanan berkuah lah yang cocok untuk diburu para pencari isi perut. Keuntungan cuaca seperti ini bagi kami, kami tidak harus bersusah payah berteduh untuk sekedar mengentas serangan salah satu dari mereka. Kadang kalau surya dengan ganas membakar setengah bola ini, kami selalu mencari tempat bertenduh sementara untuk sekedar mendinginkan kembali kulit-kulit kami dari sengatannya. Jika awan mengeluarkan air mata dahsyatnya, kami harus lari pontang-panting mencari tempat berteduh agar tubuh kami tidak basah kuyup diserangnya. Di emperan-emperan toko, teras-teras rumah dipinggir jalan, atau bahkan di bawah jalan layang.
Tidak terasa, sambil berbincang-bincang ringan di jalan, kami telah sampai pada sebuah warung yang tidak terlalu besar di pojok kanan dekat kepadatan lampu merah perempatan Jalan Ahmad Yani. Warung Soto Banjar. Aku dan temanku dibuat tercengang seketika melihat deretan manusia mulai dari usia dibawah hingga diatas kami, membentuk formasi deret memanjang ke belakang. Ada rasa keraguan bagiku untuk menyebrang jalan menuju tempat itu untuk memperpanjang deretan yang telah ada. Tapi tak apalah, ini semua demi temanku yang ingin merasakan soto Banjar. Lagipula kami sudah melangkahkan kaki kami menuju tempat ini. Kami segera melalui zebra cross didepan kami ketika lampu indikator pejalan kaki sudah mulai menghijau. Tibalah kami pada deretan yang tadi terlihat dari seberang jalan tempat kami berdiri. Luar biasa ramainya.
“Wah ramai begini, andai tadi aku nurutin kamu buat makan soto Lamongan aja, pasti nggak bakal seperti ini.”
“Loh nggak apa-apa lagi, lagian setelah ini kita nggak ada kuliah lagi kan. dinikmati aja itung-itung gotong royong”
“Gotong royong model apa ini?”
“hehehe…gotong royong model jigsaw, ular-ularan, atau model lain juga boleh.”
“Ah sialan, malah bercanda ni orang”
“Hehe..dibuat nyantai aja, ntar juga giliran kita yang maju.”
“Oke-oke, huftt”
Sekitar 15 menit kami terjun kedalam kemacetan manusia yang berebut semangkok soto Banjar dengan kuah lezatnya tersebut. Tak terasa, aku rasakan ada sesuatu yang mengalir dari punggungku. Keringat mulai berkucuran karena pengapnya berada ditengah-tengah antrian ini. Kini kami telah berada persis dihadapan pelayan di warung ini.
“Pesan berapa mas? Dibungkus apa dimakan disini?”
“Pesan 2 mangkok bu, dimakan disini”
“Minumnya mas?”
“Saya es the manis bu”
“Saya es jeruk bu”
“Kalian tunggu di meja ya, ini nomor mejanya”
Kami memperoleh nomor meja 11 yang berada dipojok ruangan yang berukuran sekitar 6x7 meter ini. Kegerahan yang kami rasakan mulai memudar dengan tiupan angin yang keluar dari kipas angin besar didekat televisi 21 inch yang terletak disebelah kami. Sejuk rasanya tertolong oleh angin buatan dari hasil teknologi ini. Tak begitu lama kami menunggu, akhirnya soto Banjar dan minuman yang kami pesan telah tiba di meja kami. Perut yang telah lama mengering akhirnya dapat merasakan kepuasan setelah kuah soto pertama masuk melewati mulut dan kerongkongan kami. Kuah soto Banjar memang segar sekali. Kami berdua makan dengan lahap. Kadang sesekali kami harus batuk karena terlalu tergesa-gesa menghabiskan kuah soto yang masih tersisa di mangkok ukuran jumbo yang ada.
Setelah makanan dan minuman kami kosong meninggalkan wadahnya, kami segera berdiri menuju kasir untuk menyelesaikan pembayaran yang telah tertulis pada struk yang ada di meja kami. Lagipula kami tidak bisa santai berlama-lama meskipun sekedar menunggu soto dan minuman sampai semua turun ke perut kami. Orang-orang yang berjubel antri telah siap mengeliminasi kami dari meja 11. Setelah membayar, kami segera menuju tempat kos masing-masing yang letaknya cukup berdekatan.
“Sumpah, enak banget ya soto Banjarnya. Nggak kalah deh dari soto-soto yang lain.”
“Hehe..itulah kerennya Indonesia.”
“Kapan-kapan kita berburu soto lagi ya, aku pengen ajak kamu ke cotto Makassar. Pasti setelah rasain kamu ketagihan!”
“Siap bos! Asal ada yang traktir. Hehe”
“Gila kamu. Senasib sepenanggungan gini.”
“Ya nunggu kamu ulang tahun aja kita makan sotonya. Hehehe”
Akhirnya setelah berbincang-bincang di sepanjang jalan, kami sampai di tempat kos masing-masing. Akupun segera menuju kosku, begitupun temanku. Didalam kamar kos aku segera mencopot hem yang aku kenakan. Kegerahan kembali melandaku. Aku membuka jendela kamarku lebar-lebar untuk mengundang sang angin bertamu ke dalam kamarku. Kenikmatanku dalam merasakan masuknya angin di kamar membuatku terhanyut dalam sayup-sayup angin ini. Fikiranku kali ini dipenuhi dengan perenungan atas mata kuliah yang aku dapatkan hari ini. Aku mendapatkan mata kuliah yang membahas tentang kerukunan dan pluralitas bangsa. Bangsa ini adalah bangsa yang beragam suku, agama, kepercayaan, RAS, dan golongan, seperti layaknya berbagai macam soto yang ada di bumi pertiwi ini. Ada soto Banjar yang tadi aku makan, ada soto Lamongan, ada cotto Makassar, ada rujak soto di Banyuwangi, ada soto Madura, dan berbagai soto yang lain. Keprihatinanku adalah semakin meluasnya paham-paham bahwa bangsa ini harus disamaratakan, ada yang berkoar-koar ingin meng-Islam-kan Indonesia, ada yang berteriak negeri ini harus sama rata sama rasa, dan paham-paham lain yang membuat semangat pluralitas dan integritas bangsa ini kian menurun. Padahal kita semua tahu, bangsa ini terbentuk karena keragaman yang ada didalamnya. Kita tidak bisa menyamaratakan perbedaan yang sudah ada karena justru perbedaan yang ada itulah yang menjadi pemerkaya negeri tercinta ini. Tidak ada suku, agama, atau golongan di Indonesia yang lebih kuat, lebih berani, lebih gagah, dan lebih perkasa. Semua satu dan semua sama. Mayoritas bukanlah pemegang kuasa karena minoritas yang ada masih punya eksistensi yang harus diakui oleh sang mayoritas. Masyarkat harus kembali berfikir jernih dalam melihat fenomena disintegrasi yang ada. Satu tidak selalu sama, satu tidak selalu berarti seragam, sama juga tidak juga selalu berwajah sama pula. Kita tahu istilah siswa. Apakah sebutan siswa hanya diperuntukkan untuk mereka yang hanya berseragam putih merah? Ataukah hanya untuk mereka yang berseragam putih biru? Ataukah hanyalah untuk mereka yang berseragam putih abu-abu?
Pluralitas harus dipertahankan dan selalu dihidupkan dalam negara kita tercinta. Bayangkan jika perbedaan yang ada disamakan dan diseragamkan. Bagaimana wujudnya? Bagaimana dengan budaya-budaya yang tercipta dari hasil kristalisasi masing-masing daerah? Apakah semua harus berkopyah? Ataukan semua harus memakai koteka?

Ya, biarkanlah soto tercipta dengan berbagai macam bentuk dan rasa sesuai darimana asal daerahnya. Soto yang ada biarlah memiliki cita rasa yang berbeda. Selama lidah kita masih bisa menerima perbedaan cita rasanya, tidaklah menjadi sebuah masalah. Sangatlah mustahil jika soto-soto yang ada kita paksakan untuk sama. Tidak mungkin soto-soto yang ada kita masukkan kedalam satu wadah dan dicampur aduk hingga rata. Jika seperti itu, sangatlah munafik orang yang mengatakan bahwa campuran berbagai macam soto itu masih terasa lezat seperti sediakala.

Rabu, 25 Desember 2013

SUJUD SEORANG PENDOSA
Kudengar alarm yang berbunyi nyaring dari ponsel yang telah aku atur malam kemarin. Berat rasanya kelopak mata ini untuk sekedar mengangkat sedikit agar bola mataku melihat kegelapan yang ada dalam sudut-sudut sempit kamarku. Alarm terus memaksaku dalam untuk segera bangkit dari tempat tidur. “haaaaaaammmm” benar-benar tidak bisa aku bohongi kalau mata ini terlalu lelah karena aktifitas-aktifitas yang selalu aku sodorkan kepadanya. Dalam kegelapan dini hari, kuarahkan jari-jari tanganku ke sudut-sudut dinding kamar dengan posisi setengah sadar. Kutemukan saklar lampu ini dan “klek”. Secepat kilat pupil langsung mengerut seolah-olah tidak siap dengan perubahan pasokan cahaya yang aku terima saat ini. Sebisa mungkin aku konsistenkan tubuh yang lemas ini untuk tidak terperanjak jatuh lagi. Segera dengan langkah pasti walapun sedikit memaksa, aku arahkan kaki-kaki lelahku menuju kran yang berada sekitar 20 langkah dari kamarku. Dinginnya embun di pukul 2 dini hari ini benar-benar telah merapuhkan tubuhku. Hawa dingin yang maha dasyat telah menyerang tubuhku, menusuk-nusuk sum-sum tulang yang ini, menyerang seluruh pembuluh darah yang baru saja bekerja. Kini aku telah berhadapan dengan kran air yang sudah siap menyemburkan magmanya ke tubuh. Aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi agar kedinginan pagi buta ini tidak semakin menguasai dan mengintervensiku. Kubasuh seluruh wajah yang masih sayu-sayu, kedua tangan yang kering karena hawa dingin, rambut yang tidak jelas bentuknya, telinga yang luar biasa kaku serta kaki-kakiku yang mulai menegang.
Besamaan dengan kembaliku menuju kamar, angin kecil mengikuti langkahku hingga di depan pintu. Hawa ini benar-benar mengerjaiku, mengajakku untuk kembali melingkarkan serapat mungkin selimut tebal yang masih berserakan diatas tempat tidurku. Tapi keinginanku dipagi buta ini bagai sebuah fondasi beton yang telah kokoh. Aku sudah merencanakan semua dengan matang sebelum  melakukan mati sementaraku tadi malam. Kuraih sarung yang telah terlipat rapi diatas koper, aku julurkan sajadah panjang di lantai yang telah terlindungi oleh karpet tipis namun hangat, aku ambil kopyah yang telah menggantung di dinding kamar. “bismillah”. Dengan segala konsentrasi yang aku miliki, aku mulai ayunkan tanganku keatas, menundukkan pandanganku, menundukkan hati kerasku dan menyerahkan seluruh jiwa dan raga ini kepada Sang Ilahi. Kaki-kaki dan seluruh tubuhku bergetar mengikuti lantunan-lantunan kalimat suci dan ritme gerak teratur yang aku lakukan.
Dua rokaatku telah selesai, tanpa terasa air mata yang penuh dengan kemunafikan ini mengalir sangat deras memenuhi seluruh kelopak mata hingga ia tidak lagi bisa menahan jumlah yang semakin menjadi-jadi. Air mata ini menjamah baju putih yang aku kenakan dan terus jatuh ke sajadah yang menjadi tempat persimpuhanku saat ini. Aku masih belum bisa melakukan apapun selain menangis dan berteriak sekencang mungkin dari hati yang penuh dengan kotoran ini. Bibirku mulai bergerak tidak teratur, bergetar-getar dengan berantakan mengucapkan kalimat-kalimat dzikir untuk menenangkan hati yang masih terus meronta-ronta bagaikan petir yang menyambar-nyambar dunia dan seisinya. Tubuh yang penuh dosa ini semakin tersimpuh malu dihadapan Sang Khalik yang saat ini seolah-olah tepat berada dihadapanku, melihatku penuh dengan murka karena kesalahan-kesalahan yang telah aku lakukan di dunia yang fana ini. Aku malu, sungguh malu dengan tingkah lakuku. Namun sebagai hamba yang tidak ingin terlalu lama terpesona dengan kesenangan dunia, aku sempatkan waktu yang jarang aku dapatkan ini untuk segera ikrarkan komitmen taubatku kepada Yang Maha Kuasa. Kali ini aku coba beranikan diri untuk mengadu kepadaNya, mencurahkan seluruh isi hatiku yang paling dalam, menyerahkan seluruh jasad dan rokhaniku dalam memohon ampunan. Aku teriakkan sekencang mungkin aduan ini didalam hati yang telah dipenuhi oleh dusta ini.
Tuhan, segala puji bagimu Tuhan seru sekalian alam. Aku duduk tersimpuh dihadapanmu tidak lain dan tidak bukan hanyalah semata-mata memohon ridho dan ampunan darimu. Aku tahu, sangat jauh dari kepantasan jika aku saat ini memohon ampunan itu dariMu. Aku menyadari betapa luarbiasanya dosa-dosa yang selama ini telah aku perbuat. Aku telah durhaka kepadaMu, aku sering melalaikan panggilan-panggilan dariMu dan aku sering membangkangi ketentuan-ketentuan yang telah Kau tetapkan. Tuhan, sesungguhnya hati yang penuh dosa ini meronta-ronta untuk segera menemukan obat yang telah lama aku cari menulusuri jalan panjang dunia. Namun dengan kesadaran yang amat tinggi, tanpa meragukannya sedikitpun, obat itu hanyalah kembali kepadaMu. Tuhan, ampuni dosaku, dosa yang sudah tidak terhitung lagi jumlahnya, dosa yang tidak dapat dikenali lagi variasi-variasinya. Tuhan, telah lama usia yang kau berikan kepadaku dengan penuh kasih kasih sayang, namun tanpa kesadaran diri aku telah menggunakannya untuk bermaksiat keluar dari rel-rel kodratMu. Tuhan, dengan segenap penyesalan yang aku punya, aku menyadari bahwa semua ini tidaklah ada artinya sedikitpun bagiMu yang Maha Kaya, Maha Sempurna, dan Maha Segalanya. Tapi keyakinanku bahwa Kau Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Maha Penyayang masih membara dengan bara yang luarbiasa dalam hati yang penuh dusta ini. Ampunilah aku Tuhan, ampunilah hambamu yang telah jauh menyimpang dari ketentuan-ketentuanMu. Bukalah kembali hati yang sudah menghitam legam ini. Bersihkanlah debu-debu dan sampah-sampah yang telah menumpuk dalam diri ini Tuhan. Tuhan, hanya dengan penyesalan dan kucuran air mata ini yang dapat aku gunakan sebagai bukti tanpa sedikitpun memalingkan hati, betapa menyesalnya diriku akan besarnya dosa-dosa yang telah aku lakukan. Tuhan, lindungilah diri ini, bentengilah kembali hati ini, sucikanlah kembali jiwa dan ragaku. Tuhan, jadikanlah aku sebagai hambamu yang masuk kedalam orang-orang yang merindukan bertatap muka denganmu dihari kemudian. Satukanlah aku dengan golongan-golongan umat-umat nabiku kelak. Tuhan, kabulkanlah doa dan permohonan mendalam ini. Terimalah sujud hamba yang penuh dosa ini. Tumbuhkanlah kembali kepatuhan dan kepatutan pada diriku Tuhan. Tuhan, sekali lagi kabulkanlah do’a hambamu ini.

Saat ini tidak terasa lagi hawa dingin yang sembari tadi berusaha menembus lebih dalam lagi sum-sum tulangku. Yang aku dapatkan hanyalah kehangatan dan kemesraan bersama Sang Ilahi. Setelah ini aku berjanji, akan selalu mengunjungimu yang selalu rindu dengan kehadiranku untuk mengadu. Akan aku ikuti rel-rel yang telah kau tetapkan untuk membimbingku jauh dari kesesatan.

Selasa, 24 Desember 2013

TAK KU TEMUI LAGI TANGIS SEPERTI MALAM ITU
Suasa kemeriahan tadi malam membuatku sedikit terhibur. Penat perlahan-lahan meninggalkan fikiranku yang semenjak pagi hari selalu mengisi bagaikan kopi yang selalu setia ada pada cangkirnya. Penat bagiku sudah seperti dua sisi magnet positif dan negatif, dimana keduanya saling terikat. Ya, semua orang pasti memiliki penat masing-masing yang selalu update mengikuti rutinitas yang ia jalani. Aku tidak ingin berlama-lama melihat kopi itu selalu diam pada cangkirnya. Perlahan-lahan kutuangkan air putih sedikit demi sedikit sampai warna gelap itu menjadi bening kembali, dan endapan kental pekat itupun terangkat meluap meninggalkan cangkir itu juga. Sedikit lega rasanya melihat teman-teman duduk di kursi bagian belakang, karena dengan begitu aku akan mendapatkan lawan bicara. Kuarahkan kaki yang mulai melemas ini kearah dimana mereka duduk menikmati acara yang cukup meriah malam itu. Sepontan kuarahkan tanganku untuk meraih kursi yang semenjak tadi ia gunakan untuk menampung kaki yang ia julurkan ke depan. Tempat strategis kudapatkan, yang mengarah tepat ke panggung, sehingga aku dapat melihat dengan utuh dekorasi yang terpasang elok dan megah.
“udah lama kamu disini? Dimana anak-anak?” tanyaku.
“eh kapan datang? Kita udah dari tadi bro. Kita cuma berdua. Mana gandenganmu?”
“barusan ini, gandengan apa, orang aku sendiri kesini”.
“ohya bro, selamat ya atas terpilihmu jadi petinggi komisi! Lanjutkan”.
“lho, kalian tau dari siapa? Iya terima kasih, aku mohon support dan bimbingan dari kalian.”
“mitra kita luas loh.hehe…oke, kita semua bakal selalu support kamu kok. Kerjakan semua sesuai hati nurani ya”
“insyallah siap”.
Percakapan itu mengawali kehangatan pertemuanku dengan mereka. Lega rasanya semenjak pagi kesibukan yang aku jalani dapat terobati dengan suara alunan musik-musik yang secara berkala berganti genre, dari musik ska, pop, rock, hingga reggae. Gesture tubuh yang sejak tadi ku atur sedemikian rupa agar terlihat sedikit berwibawa, malam itu perlahan sendi-sendi tubuhku berubah haluan mengikuti alunan musik yang mengaung keras.
Sembari menikamati acara yang terkemas rapi tersebut, aku melihat sosok teman yang semenjak kedatanganku selalu berpindah tempat. Aku perhatikan dia berada di pojok kiri depan panggung hiburan bersama dengan panitia acara lainnya. Tidak lama kemudian langkah kakinya mengarah ke tengah bagian tepi lokasi acara. Lima lagu dari pengisi acara telah usai, ku lihat posisinya kini telah berganti di ujung belakang dekat pintu masuk tamu.
Sekejab aku berdiri melepas kebosanan tubuhku yang semenjak datang tadi hanya duduk menikmati alunan-alunan musilk yang teratur. Ku arahkan langkah kaki ini menuju sebuah ruangan di sisi ruangan besar bekas sosok temanku berdiri tadi. Masih seperti biasanya, aroma ruang kecil di tempat ini tidak jauh berbeda ketika aku keluarkan rupiahku untuk masuk ke toilet umum yang berada di alun-alun kota. Terdapat dua toilet yang saling berhadapan dan ditengah terpasang sebuah watafel lengkap dengan cermin yang lumayan besar menghadap gagah kepada setiap pengunjung yang melewatinya. Tidak dapat aku sangkal kalau cermin itu telah menarik wajahku untuk menghadapkan pandanganku padanya. Aku tuang sedikit air yang keluar dari kucuran kran di watafel, lalu kuarahkan ke arah rambut yang sedikit berantakan karena bekas helm yang aku pakai saat menuju tempat ini. Kini aku sedikit rapi dengan balutan jumper abu-abuku. Ketika keluar dari toilet, aku masih melihat dia berada di belakang dekat pintu masuk pengunjung bersama dengan temanku yang sama sepertinya sebagai panitia acara malam itu. Keinginanku untuk menghampirinya semenjak rencanaku pergi ke gedung besar itu aku implementasikan segera.
“wah yang lagi sibuk, capek len?”
“eh kamu Day, kapan kesini?”
“belum lama sih, waktu aku masuk, kamu ada di depan tadi. Sibuk banget ya?”
“hehe..sekarang udah nggak kok. Gimana rapat plenonya? Sukses?”
“Alhamdulillah sukses, mohon dukungan dan do’anya ya”
“hehe siap! Maju terus ya Day”
“makasih Len. Ohya, jangan sampai nangis lagi loh”
“hehe..enggak kok, itu kan dulu. Sekarang semuanya udah beda. Acaranya juga beda”.
“wah bagus. Jangan cengeng lagi ya. Dinikmati aja acaranya, nggak usah dibuat beban”
“iya Day pasti, ini tempat duduknya. Nggak enak lo makan kue sambil berdiri”
Dia mempersilahkanku duduk di kursi yang ia ambil dari tempat yang tidak jauh dari kami berada. Kami melanjutkan obrolan-obrolan seputar kegiatan dan seputar kuliah sambil aku menikmati kue yang diberikan oleh salah satu panitia acara. Aku diperlakukan layaknya seorang menteri pertanian yang menengok sawah petani di desa. Diantara sekian pengunjung malam itu, mungkin hanya aku yang mendapatkan konsumsi, ya meskipun awalnya aku menanyakan beberapa kali tentang konsumsi ke panitia dengan harapan dapat. Dan akhirnya terkabul juga. hehe. Obrolan kami yang semakin mengalir, membuat air dalam cangkir itu semakin jernih. Kini tidak kulihat sedikitpun ampas kopi itu mengendap di cangkirku lagi.
Obrolan kami berkahir diikuti dengan berakhirnya juga acara pada malam itu. “selamat ya, acaranya meriah dan sukses, salam ke panitia yang lain”. “terima kasih ya Day”. Sambil perlahan meninggalkanku menuju teman-teman panitia lain yang telah berkumpul di depan panggung merayakan keberhasilan mereka menjalankan acara malam itu. Tanganku seolah-olah mengayun dengan sendirinya memberikan jabatan tangan kepada panitia-panitia yang melintas didepanku. Bibirku juga secara otomatis mengikuti komando memori dasyat ini untuk mengucapkan kata selamat kepada mereka. Kuarahkan kakiku untuk meninggalkan tempat itu.
Ada hal yang membuatku senang ketika melihat temanku memasang wajah yang gembira. Sepanjang acara, mimik wajahnya dibalut oleh senyuman khas gadis sunda yang menunjukkan bahwa ia menikmati peran yang ia lakukan. Hal itu sangat jauh berbeda ketika aku dan dia masih berada pada satu kepengurusan kepanitiaan. Ketika itu dalam acara yang sama, tetapi dengan muatan yang lebih padat kami seolah-olah bekerja tanpa pengertian dari panitia yang lain. Dies natalis tahun lalu berbeda jauh dengan tahun ini, dimana tahun lalu ada event pemilihan putra-putri jurusan. Setelah pemenang diumumkan, ada acara menjamu para peserta lomba dengan makan malam. Ketika itu kami berdua menjadi babu untuk membereskan ruangan, piring, gelas, sendok, dan sisa nasi yang berantakan di ruang makan, padahal itu bukan tugas kami. Panitia yang lain menikmati acara dengan melupakan tugas mereka sebagai panitia.
Sontak temanku ini menangis melihat betapa memprihatinkannya fenomena tersebut. Sambil mengusap air matanya, ia terus dengan sabar membereskan kesemrawutan ruang makan waktu itu. Akupun yang kebetulan berada di dapur saat itu langsung membantunya, sehingga hanya kami berdua yang merangkap jabatan sebagai sie kebersihan malam itu. Setelah semua beres, panitia yang lain nongol dan langsung menyantap sisa makanan yang bisa dimakan. Setelah acara bubar, semua mendapat tugas merapikan kursi-kursi dan membersihkan sampah-sampah yang berserakan di hampir semua sudut ruangan. Tetapi anehnya, hanya beberapa orang saja yang melaksanakan tugas itu, termasuk aku dan temanku itu. Kekesalanpun terjadi. Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat dahulu, meninggalkan temanku yang berwajah basah dipenuhi air mata yang bercampur dengan keringat jerih payahnya berjuang dalam mempertanggungjawabkan perannya.
Kebanggan luar biasa dari dalam hati ini terhadap sosok itu. Dia adalah sosok pekerja keras, penuh komitmen, dan selalu tanggap dalam segala hal. Dia organisatoris sejati. Aku yakin, jika wanita-wanita Indonesia memiliki sifat-sifat yang dimiliki oleh gadis sunda yang menjadi temanku tersebut, Indonesia akan maju.
Kini haru itu mengarah kepadaku. Aku terharu dan bangga karena sudah tidak kutemukan lagi tangis seperti malam itu, malam ketika acara serupa berlangsung di tahun yang lalu. Lena, you’re my inspiration to be better.

Senin, 23 Desember 2013

TANGGALNYA PEJALAN KAKI
Panas terik matahari membakar kulit kecoklatanku. Klakson-klakson bersahut-sahutan terdengar oleh telingaku. Seperti akan pecah saja gendang telinga ini. “Tiiinnnnnn” bunyi kencang klakson sebuah mobil mewah di sebelahku semakin memperpanas suasana, ditambah lagi para pengendara kuda besi yang seolah-olah tidak mau kalah membunyikan klakson mereka dengan maksud memberikan sebuah kode bagi pengendara-pengendara didepannya. Tiba-tiba disampingku muncul mobil pick up lengkap dengan muatannya yang berisi kepala-kepala hitam berbadan putih penuh bulu, kambing ettawa. Lengkap sudah berbagai asesoris siang yang terik hari ini. Sementara aku lihat pada tiang dengan angka elektronik di depan masih menunjukkan angka 35 yang perlahan-lahan mundur. Masih setengah menit lagi.
Ketika aku palingkan wajahku ke sisi kiri, terlihat kebiasaan yang sudah sering aku lihat di kota-kota besar termasuk di perempatan lampu merah ITN ini. Tidak sedikit pengemudi motor yang berusaha naik ke trotoar untuk mencari celah-celah agar mereka bisa keluar dari kemacetan yang luar biasa siang ini. Seolah-olah telah menjadi alternative road bagi mereka, mulai dari motor matic, manual, kopling, trail, hingga motor harga 30 juataan diatas pun tidak absen melewati jalan yang sejatinya hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki tersebut. Tak terasa angka mulai berubah menjadi warna hijau menunjukkan nilai 40. Suara klakson semakin memekikkan telingaku. “sabar hoy!” kata-kata itu keluar dari beberapa pengendara motor yang diklakson oleh mobil x-trail hitam di belakangnya. Tak jarang ada juga pengendara yang mengeluarkan kata-kata jorok seperti misalnya, “tttiiiiiiiiittttt(sensor)”.
Aku perlahan-lahan menarik handle gas motorku. Aku terkejut ketika di sisi kiri depan jalan telah berdiri petugas-petugas polisi lengkap dengan sabuk putihnya memberhentikan pengendara-pengendara yang nekat memakai trotoar sebagai jalan alternatif seperti apa yang aku lihat tadi. Pikirku dalam hati, “kapoookkk.hahahaha”. Bukan aku namanya kalau tidak penasaran dengan segala sesuatu. Segera aku menuju lebih berada di depan kerumunan polisi lalu lintas yang siang itu siap membuka surat tilangnya. Aku parkirkan motorku di sebelah kiri jalan, ku tinggalkan motor itu sendiri dan segera menuju kerumunan yang telah menarik minatku untuk menyaksikannya.
“selamat siang bapak”
“iya selamat siang”
“boleh saya melihat STNK, SIM, dan KTPnya pak?”
“sebentar pak saya cari”
“baik pak”
Pertanyaan yang sudah menjadi jurus andalan bapak-bapak polisi untuk si pelanggar lalu lintas. Aku sudah tidak asing dengan pertanyaan itu. Pengalamanku ditilang waktu masih sekolah sudah menggunung. Hehehe.
”ini pak”
“baik saya lihat dulu. Bapak kami tilang karena bapak sudah tidak mematuhi peraturan lalu lintas”.
“tidak bisa, apa salah saya pak?”
“bapak telah menggunakan trotoar untuk menerobos antrian lampu merah. Dengan kata lain bapak tidak menggunakan jalan dengan semestinya”.
“saya cumin ikut-ikutan pak, itu tuh motor ninja warna merah yang nerobos duluan. Jadi semuanya ikuti dia dari belakang.”
“iya, kami tahu. Semua yang melanggar kami tilang.”
“gimana toe pak! jangan salahkan kami, petugas kurang mengarahkan lalu lintas. Jadinya macet dimana-mana. Jangan salahkan kami juga kalau kami pakai trotoar buat jalan, wong pejalan kakinya nggak ada, udah pada pakek motor. Eman lek trotoare nggak digawe tah.
Cekcok pun tidak dapat dihindarkan antara petugas ketertiban lalu lintas dengan pengendara nakal tersebut. Karena gosip aku rasa sudah cukup, maka aku kembali menuju ke motorku untuk melanjutkan perjalanan pulang dari ngampus. Sepanjang perjalanan aku berfikir disertai cekikikan dalam hati. Ada benarnya juga orang tadi. Kata-kata lha wong pejalan kakinya udah pakek motor menjadi hal menarik yang menggelitik otakku.
Bayangkan, bapak pelanggar lalu lintas tadi tentunya bukan tidak pernah mikir mengeluarkan kalimat tersebut. Justru bapak itu berfikir dengan melihat fenomena sudah semakin jarangnya trotoar digunakan oleh pejalan kaki. Berkat bapak itu pula aku sendiri merasa salah dan menyadari juga kalau trotoar sudah tidak diperankan dengan semestinya lagi. Pengguna kendaraan bermotor yang semakin tahun semakin menggeludak, sedangkan kondisi jalan masih stagnan menyebabkan ketidakseimbangan dalam hal lalu lintas. Jumlah volume kendaraan tidak seimbang dengan jalan yang tersedia. Siapa yang salah? kalau pertanyaan yang keluar dari mulut kita seperti itu, maka tidak ada bedanya dengan pertanyaan yang berbunyi “dulu mana telor sama ayam?”. Pasti jawabannya mulek tidak pernah didapatkan jawaban pasti.
Negara kita adalah negara konsumsi. Setiap tahun, jumlah kendaraan yang diimpor di negara tercinta ini selalu bertambah. Apalagi belum lama dan belum terlupakan dari ingatan kita adanya program mobil murah yang diluncurkan pemerintah. Haloooo kok gendeng  rek?. Program tersebut dimaksudkan agar seluruh lapisan masyarakat bisa menikmati fasilitas mobil. Baikkah? I don’t know how your perception about that. Yang jelas bisa kita lihat hasilnya seperti apa yang terjadi di perempatan traffic light ITN Malang. Bisa kita bayangkan bagaimana kondisi di ibu kota ya.

Untuk mengatasi hal tersebut, kita harus segera bergerak dimulai dari diri sendiri. Sudah saatnya kita peduli dengan kesemrawutan lalu lintas disekitar. Sudah waktunya mencintai lagi jalan kaki, menggunakan angkot untuk mengurangi volume kendaraan dan beralih menggunakan sepeda yang lebih ramah polusi dan alternatif penyembuh penyakit akut, yaitu macet.  Solusi-solusi yang lain aku rasa semua lebih mengerti dan lebih bijak untuk bertindak. Jadi ayo kita lakukan sekarang. Yang pasti terima kasih untuk bapak di perempatan ITN yang telah melanggar peratural lalu lintas sekaligus mengingatkanku untuk menulis ini.

Wong Cilik

WONG CILIK, SIMBOL YANG SEMU
Sudah lebih dari seminggu ini aku melewati jalan baru. Sebenarnya bukan jalannya yang baru, tapi peraturan penggunaannya yang baru. Dulu jalan ini masih dipergunakan dengan sistem double way, namun seiring dengan kebutuhan dan mengatasi kemacetan kini dirubah menjadi sistem one way. Peraturan baru ini merupakan langkah baru bagi kepemimpinan Walikota yang baru terpilih untuk mengatasi segala keluh kesah masyarakat terkait dengan kemacetan kota Malang yang sudah semakin memprihatinkan. Tidak heran jika hampir seluruh masyarakat harus gigit jari melihat kesemrawutan kota yang makin tak terkendali bagai luapan air yang tertuang pada sebuah mangkok kecil. Setiap hari aku harus merasakannya, merasakan bagaimana berpacu dalam sebuah kemacetan luar biasa. Ya, ini masih berbicara masalah kota tempat dimana aku menimba ilmu lanjutan. Aku tidak berani berbicara masalah Ibu Kota Jakarta.
Tampak deretan ­banner, kain kafan yang memanjang, tong-tong besar, pot plastik dan berbagai macam hasil seni rupa tangan-tangan rakyat terpasang di sepanjang jalur yang aku lewati. Pemandangan yang dapat menyejukkan atau memanaskan mata ini dapat disaksikan mulai dari daerah kampus UIN sampai berputar mengarah ke taman makam pahlawan. Tidak perduli sengatan surya atau guyuran air mata sang awan, asesoris-asesoris jalanan yang ada tetap terpasang kokoh seperti benteng perang. Pasti bukan deretan tulisan untuk pemilihan, melainkan deretan tulisan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan yang dianggap gambling. Bukan budaya kita kalau setiap pemasangan-pemasangan protes tidak disertai kata-kata jalang.
“Kami wong cilik, menolak pemberlakuan one way. Mana janjimu Abah Anton?”
“Endi janjine Abah Anton? Jare mbelani wong cilik, tapi kok malah nyusahne wong cilik?”
“Janjimu busuk! Kami wong cilik semakin sengsara”
Dan masih banyak deretan kata-kata yang tidak bisa aku hafal satu-persatu. Mataku tidak henti-hentinya melihat berbagai variasi seni yang mereka ungkapkan. Dari menulis dengan media cat, spidol hingga banner-banner besar yang sudah terdesign secara apik dengan cetakan digital printing yang sempurna. Kalau boleh memperkirakan taksiran biaya untuk menghiasi jalan umum itu, sepertinya tidak murah dan tidak sedikit biaya yang dibutuhkan.
Pribadiku sebetulnya biasa-biasa saja, sepanjang tujuan diadakannya perubahan jalur itu untuk sebuah kemajuan yang dijalani saja. Toh belum lama juga one way  ini diterapkan. Masih butuh adaptasi-adaptasi jangka panjang untuk mengambil kesimpulan yang bisa melahirkan embrio-embrio provokatif. Namun jika diadakannya jalan satu arah tersebut hanya menimbulkan masalah baru (seperti yang dikatakan wong cilik : banyak korban tabrak lari, macetnya bertambah, jualan susah, dan sejuta alasan lain), jangan sampai prosesnya diperlama. Ada hal menarik yang membuat otakku harus berputar-putar memikirkan hal tersebut. Banyak sekali, tapi aku hanya bisa memaparkan sedikit dalam tulisan ini.
Pertama, sejatinya di kota ini suasana persaingan ketat perebutan tahta walikota masih meninggalkan bekas yang masih bisa dijamah oleh panca indra. Pengalaman-pengalaman yang sudah ada sebelumnya, pasti pihak-pihak yang kalah tidak akan pernah terima dengan sang pemenang tahta. Hampir di setiap daerah terjadi hal yang sama. Beragam cara dilakukan untuk mencari-cari kesalahan sekecil apapun yang dilakukan oleh pemegang kuasa. Intinya mereka-mereka yang kalah sering mencari kesempatan dalam kesesakan. Cara jitu yang biasa digunakan biasanya adalah mencari pasukan yang siap dan rela mati berperang. Mereka akan mencari pengikut-pengikut yang tergiur oleh uang utuk mematuhi perintah yang harus mereka jalankan. Bersedia, siap, ya……begitu pistol komando dilepaskan, maka rakyat-rakyat yang tidak berdosa ini siap menjadi korban.
Kedua yang menggelitik otakku adalah istilah wong cilik yang mulai menjamur seperti boy band dan  girl band  yang saat ini digandrungi oleh pemuda-pemudi kita. Wong cilik, dalam bahasa Indonesia biasa kita kenal sebagai rakyat kecil. Kenapa dengan rakyat kecil? Apakah benar-benar rakyat kecil, atau rakyat yang sengaja dikecilkan atau juga mental rakyat kita yang suka mengaku kecil? Aku ingin mengajak semua untuk berfikir dan mengkaji ulang istilah tersebut dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Sepanjang jalur yang terpasangi hiasan-hiasan tangan maupun digital tersebut hampir semuanya terpasang kata-kata wong cilik. Istilah tersebut sudah seperti logo wajib yang harus terpasang saat melakukan aksi di lapangan. Ayo memainkan logika. Menurut pemahaman kalian, rakyat kecil itu seperti apa? Semoga apa yang aku paparkan ada sinkronisasi dengan apa yang kalian artikan. Menurutku rakyat kecil itu rakyat yang hidup dibawah garis batas hidup normal. Mereka setiap hari sibuk memikirkan apa yang harus mereka makan. Jangankan memikirkan politik, politik saja terkadang mereka tidak paham, bahkan cenderung menilai bahwa politik itu bajingan (ups). Aku masih ingat ketika nonton film calo presiden, ada dialog menarik yang kurang lebih seperti ini (aku ingat substansinya, tapi tidak ingat mirip kata-katanya).
“ibu, kita harus perduli dengan nasib masyarakat kita kedepannya. Dengan cara memilih pasangan yang benar dan memiliki tujuan kedepan yang jelas”
“buat apa pak, janji-janji mereka busuk, kalau sudah jadi apa nasib kita bisa berubah? Mereka pasti melupakan kita pak. Aku milih yang ada duitnya saja, kapan lagi aku sejahtera kalau nggak musim-musim sekarang”.
Pandangan seperti itu hampir dimiliki oleh rakyat kecil yang memang benar-benar kecil, bukan rakyat yang bermental kecil dan dibuat kecil oleh sistem. Nah kalau seperti itu, kira-kira mampukah wong cilik yang terlogokan pada setiap tulisan yang terpampang disepanjang jalan mengeluarkan biaya yang cukup besar? Apa mereka tahu tentang desain banner?, apa mereka sanggup membeli kain-kain kafan panjang yang terbentang sepanjang jalan? Apa mereka mampu membeli cat berwarna-warni yang mempelangikan jalan? Aku rasa jika benar-benar rakyat kecil yang melakukan, mereka harus berpuasa penuh selama beberapa bulan. Untuk uang makan saja rakyat kecil harus berkeliling menjajakan Koran, mengayuh becaknya, menyetir angkotnya dan kegiatan-kegiatan adu nasib lainnya. Nah, coba disinkronkan dengan kewajaran dan kenyataan. Aku yakin kalian bisa mengambil kesimpulan secara lebih bijak.
Aku tidak ingin menambah masalah, aku hanya ingin mengungkapkan pemikiran. Aku yakin kebenaran akan berdiri tegak ketika waktu yang tepat telah datang.