SUJUD SEORANG PENDOSA
Kudengar
alarm yang berbunyi nyaring dari ponsel yang telah aku atur malam kemarin.
Berat rasanya kelopak mata ini untuk sekedar mengangkat sedikit agar bola
mataku melihat kegelapan yang ada dalam sudut-sudut sempit kamarku. Alarm terus
memaksaku dalam untuk segera bangkit dari tempat tidur. “haaaaaaammmm”
benar-benar tidak bisa aku bohongi kalau mata ini terlalu lelah karena
aktifitas-aktifitas yang selalu aku sodorkan kepadanya. Dalam kegelapan dini
hari, kuarahkan jari-jari tanganku ke sudut-sudut dinding kamar dengan posisi
setengah sadar. Kutemukan saklar lampu ini dan “klek”. Secepat kilat pupil
langsung mengerut seolah-olah tidak siap dengan perubahan pasokan cahaya yang
aku terima saat ini. Sebisa mungkin aku konsistenkan tubuh yang lemas ini untuk
tidak terperanjak jatuh lagi. Segera dengan langkah pasti walapun sedikit
memaksa, aku arahkan kaki-kaki lelahku menuju kran yang berada sekitar 20
langkah dari kamarku. Dinginnya embun di pukul 2 dini hari ini benar-benar telah
merapuhkan tubuhku. Hawa dingin yang maha dasyat telah menyerang tubuhku,
menusuk-nusuk sum-sum tulang yang ini, menyerang seluruh pembuluh darah yang
baru saja bekerja. Kini aku telah berhadapan dengan kran air yang sudah siap menyemburkan
magmanya ke tubuh. Aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi agar kedinginan
pagi buta ini tidak semakin menguasai dan mengintervensiku. Kubasuh seluruh
wajah yang masih sayu-sayu, kedua tangan yang kering karena hawa dingin, rambut
yang tidak jelas bentuknya, telinga yang luar biasa kaku serta kaki-kakiku yang
mulai menegang.
Besamaan
dengan kembaliku menuju kamar, angin kecil mengikuti langkahku hingga di depan
pintu. Hawa ini benar-benar mengerjaiku, mengajakku untuk kembali melingkarkan
serapat mungkin selimut tebal yang masih berserakan diatas tempat tidurku. Tapi
keinginanku dipagi buta ini bagai sebuah fondasi beton yang telah kokoh. Aku
sudah merencanakan semua dengan matang sebelum
melakukan mati sementaraku tadi malam. Kuraih sarung yang telah terlipat
rapi diatas koper, aku julurkan sajadah panjang di lantai yang telah
terlindungi oleh karpet tipis namun hangat, aku ambil kopyah yang telah
menggantung di dinding kamar. “bismillah”. Dengan segala konsentrasi yang aku
miliki, aku mulai ayunkan tanganku keatas, menundukkan pandanganku, menundukkan
hati kerasku dan menyerahkan seluruh jiwa dan raga ini kepada Sang Ilahi.
Kaki-kaki dan seluruh tubuhku bergetar mengikuti lantunan-lantunan kalimat suci
dan ritme gerak teratur yang aku lakukan.
Dua
rokaatku telah selesai, tanpa terasa air mata yang penuh dengan kemunafikan ini
mengalir sangat deras memenuhi seluruh kelopak mata hingga ia tidak lagi bisa
menahan jumlah yang semakin menjadi-jadi. Air mata ini menjamah baju putih yang
aku kenakan dan terus jatuh ke sajadah yang menjadi tempat persimpuhanku saat
ini. Aku masih belum bisa melakukan apapun selain menangis dan berteriak
sekencang mungkin dari hati yang penuh dengan kotoran ini. Bibirku mulai
bergerak tidak teratur, bergetar-getar dengan berantakan mengucapkan
kalimat-kalimat dzikir untuk menenangkan hati yang masih terus meronta-ronta
bagaikan petir yang menyambar-nyambar dunia dan seisinya. Tubuh yang penuh dosa
ini semakin tersimpuh malu dihadapan Sang Khalik yang saat ini seolah-olah
tepat berada dihadapanku, melihatku penuh dengan murka karena
kesalahan-kesalahan yang telah aku lakukan di dunia yang fana ini. Aku malu,
sungguh malu dengan tingkah lakuku. Namun sebagai hamba yang tidak ingin
terlalu lama terpesona dengan kesenangan dunia, aku sempatkan waktu yang jarang
aku dapatkan ini untuk segera ikrarkan komitmen taubatku kepada Yang Maha
Kuasa. Kali ini aku coba beranikan diri untuk mengadu kepadaNya, mencurahkan
seluruh isi hatiku yang paling dalam, menyerahkan seluruh jasad dan rokhaniku
dalam memohon ampunan. Aku teriakkan sekencang mungkin aduan ini didalam hati
yang telah dipenuhi oleh dusta ini.
Tuhan, segala puji bagimu Tuhan
seru sekalian alam. Aku duduk tersimpuh dihadapanmu tidak lain dan tidak bukan
hanyalah semata-mata memohon ridho dan ampunan darimu. Aku tahu, sangat jauh
dari kepantasan jika aku saat ini memohon ampunan itu dariMu. Aku menyadari
betapa luarbiasanya dosa-dosa yang selama ini telah aku perbuat. Aku telah
durhaka kepadaMu, aku sering melalaikan panggilan-panggilan dariMu dan aku
sering membangkangi ketentuan-ketentuan yang telah Kau tetapkan. Tuhan,
sesungguhnya hati yang penuh dosa ini meronta-ronta untuk segera menemukan obat
yang telah lama aku cari menulusuri jalan panjang dunia. Namun dengan kesadaran
yang amat tinggi, tanpa meragukannya sedikitpun, obat itu hanyalah kembali
kepadaMu. Tuhan, ampuni dosaku, dosa yang sudah tidak terhitung lagi jumlahnya,
dosa yang tidak dapat dikenali lagi variasi-variasinya. Tuhan, telah lama usia
yang kau berikan kepadaku dengan penuh kasih kasih sayang, namun tanpa
kesadaran diri aku telah menggunakannya untuk bermaksiat keluar dari rel-rel
kodratMu. Tuhan, dengan segenap penyesalan yang aku punya, aku menyadari bahwa
semua ini tidaklah ada artinya sedikitpun bagiMu yang Maha Kaya, Maha Sempurna,
dan Maha Segalanya. Tapi keyakinanku bahwa Kau Maha Pengampun, Maha Pengasih
dan Maha Penyayang masih membara dengan bara yang luarbiasa dalam hati yang
penuh dusta ini. Ampunilah aku Tuhan, ampunilah hambamu yang telah jauh
menyimpang dari ketentuan-ketentuanMu. Bukalah kembali hati yang sudah
menghitam legam ini. Bersihkanlah debu-debu dan sampah-sampah yang telah
menumpuk dalam diri ini Tuhan. Tuhan, hanya dengan penyesalan dan kucuran air
mata ini yang dapat aku gunakan sebagai bukti tanpa sedikitpun memalingkan
hati, betapa menyesalnya diriku akan besarnya dosa-dosa yang telah aku lakukan.
Tuhan, lindungilah diri ini, bentengilah kembali hati ini, sucikanlah kembali
jiwa dan ragaku. Tuhan, jadikanlah aku sebagai hambamu yang masuk kedalam
orang-orang yang merindukan bertatap muka denganmu dihari kemudian. Satukanlah
aku dengan golongan-golongan umat-umat nabiku kelak. Tuhan, kabulkanlah doa dan
permohonan mendalam ini. Terimalah sujud hamba yang penuh dosa ini.
Tumbuhkanlah kembali kepatuhan dan kepatutan pada diriku Tuhan. Tuhan, sekali
lagi kabulkanlah do’a hambamu ini.
Saat
ini tidak terasa lagi hawa dingin yang sembari tadi berusaha menembus lebih
dalam lagi sum-sum tulangku. Yang aku dapatkan hanyalah kehangatan dan
kemesraan bersama Sang Ilahi. Setelah ini aku berjanji, akan selalu
mengunjungimu yang selalu rindu dengan kehadiranku untuk mengadu. Akan aku
ikuti rel-rel yang telah kau tetapkan untuk membimbingku jauh dari kesesatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar