Rabu, 25 Desember 2013

SUJUD SEORANG PENDOSA
Kudengar alarm yang berbunyi nyaring dari ponsel yang telah aku atur malam kemarin. Berat rasanya kelopak mata ini untuk sekedar mengangkat sedikit agar bola mataku melihat kegelapan yang ada dalam sudut-sudut sempit kamarku. Alarm terus memaksaku dalam untuk segera bangkit dari tempat tidur. “haaaaaaammmm” benar-benar tidak bisa aku bohongi kalau mata ini terlalu lelah karena aktifitas-aktifitas yang selalu aku sodorkan kepadanya. Dalam kegelapan dini hari, kuarahkan jari-jari tanganku ke sudut-sudut dinding kamar dengan posisi setengah sadar. Kutemukan saklar lampu ini dan “klek”. Secepat kilat pupil langsung mengerut seolah-olah tidak siap dengan perubahan pasokan cahaya yang aku terima saat ini. Sebisa mungkin aku konsistenkan tubuh yang lemas ini untuk tidak terperanjak jatuh lagi. Segera dengan langkah pasti walapun sedikit memaksa, aku arahkan kaki-kaki lelahku menuju kran yang berada sekitar 20 langkah dari kamarku. Dinginnya embun di pukul 2 dini hari ini benar-benar telah merapuhkan tubuhku. Hawa dingin yang maha dasyat telah menyerang tubuhku, menusuk-nusuk sum-sum tulang yang ini, menyerang seluruh pembuluh darah yang baru saja bekerja. Kini aku telah berhadapan dengan kran air yang sudah siap menyemburkan magmanya ke tubuh. Aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi agar kedinginan pagi buta ini tidak semakin menguasai dan mengintervensiku. Kubasuh seluruh wajah yang masih sayu-sayu, kedua tangan yang kering karena hawa dingin, rambut yang tidak jelas bentuknya, telinga yang luar biasa kaku serta kaki-kakiku yang mulai menegang.
Besamaan dengan kembaliku menuju kamar, angin kecil mengikuti langkahku hingga di depan pintu. Hawa ini benar-benar mengerjaiku, mengajakku untuk kembali melingkarkan serapat mungkin selimut tebal yang masih berserakan diatas tempat tidurku. Tapi keinginanku dipagi buta ini bagai sebuah fondasi beton yang telah kokoh. Aku sudah merencanakan semua dengan matang sebelum  melakukan mati sementaraku tadi malam. Kuraih sarung yang telah terlipat rapi diatas koper, aku julurkan sajadah panjang di lantai yang telah terlindungi oleh karpet tipis namun hangat, aku ambil kopyah yang telah menggantung di dinding kamar. “bismillah”. Dengan segala konsentrasi yang aku miliki, aku mulai ayunkan tanganku keatas, menundukkan pandanganku, menundukkan hati kerasku dan menyerahkan seluruh jiwa dan raga ini kepada Sang Ilahi. Kaki-kaki dan seluruh tubuhku bergetar mengikuti lantunan-lantunan kalimat suci dan ritme gerak teratur yang aku lakukan.
Dua rokaatku telah selesai, tanpa terasa air mata yang penuh dengan kemunafikan ini mengalir sangat deras memenuhi seluruh kelopak mata hingga ia tidak lagi bisa menahan jumlah yang semakin menjadi-jadi. Air mata ini menjamah baju putih yang aku kenakan dan terus jatuh ke sajadah yang menjadi tempat persimpuhanku saat ini. Aku masih belum bisa melakukan apapun selain menangis dan berteriak sekencang mungkin dari hati yang penuh dengan kotoran ini. Bibirku mulai bergerak tidak teratur, bergetar-getar dengan berantakan mengucapkan kalimat-kalimat dzikir untuk menenangkan hati yang masih terus meronta-ronta bagaikan petir yang menyambar-nyambar dunia dan seisinya. Tubuh yang penuh dosa ini semakin tersimpuh malu dihadapan Sang Khalik yang saat ini seolah-olah tepat berada dihadapanku, melihatku penuh dengan murka karena kesalahan-kesalahan yang telah aku lakukan di dunia yang fana ini. Aku malu, sungguh malu dengan tingkah lakuku. Namun sebagai hamba yang tidak ingin terlalu lama terpesona dengan kesenangan dunia, aku sempatkan waktu yang jarang aku dapatkan ini untuk segera ikrarkan komitmen taubatku kepada Yang Maha Kuasa. Kali ini aku coba beranikan diri untuk mengadu kepadaNya, mencurahkan seluruh isi hatiku yang paling dalam, menyerahkan seluruh jasad dan rokhaniku dalam memohon ampunan. Aku teriakkan sekencang mungkin aduan ini didalam hati yang telah dipenuhi oleh dusta ini.
Tuhan, segala puji bagimu Tuhan seru sekalian alam. Aku duduk tersimpuh dihadapanmu tidak lain dan tidak bukan hanyalah semata-mata memohon ridho dan ampunan darimu. Aku tahu, sangat jauh dari kepantasan jika aku saat ini memohon ampunan itu dariMu. Aku menyadari betapa luarbiasanya dosa-dosa yang selama ini telah aku perbuat. Aku telah durhaka kepadaMu, aku sering melalaikan panggilan-panggilan dariMu dan aku sering membangkangi ketentuan-ketentuan yang telah Kau tetapkan. Tuhan, sesungguhnya hati yang penuh dosa ini meronta-ronta untuk segera menemukan obat yang telah lama aku cari menulusuri jalan panjang dunia. Namun dengan kesadaran yang amat tinggi, tanpa meragukannya sedikitpun, obat itu hanyalah kembali kepadaMu. Tuhan, ampuni dosaku, dosa yang sudah tidak terhitung lagi jumlahnya, dosa yang tidak dapat dikenali lagi variasi-variasinya. Tuhan, telah lama usia yang kau berikan kepadaku dengan penuh kasih kasih sayang, namun tanpa kesadaran diri aku telah menggunakannya untuk bermaksiat keluar dari rel-rel kodratMu. Tuhan, dengan segenap penyesalan yang aku punya, aku menyadari bahwa semua ini tidaklah ada artinya sedikitpun bagiMu yang Maha Kaya, Maha Sempurna, dan Maha Segalanya. Tapi keyakinanku bahwa Kau Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Maha Penyayang masih membara dengan bara yang luarbiasa dalam hati yang penuh dusta ini. Ampunilah aku Tuhan, ampunilah hambamu yang telah jauh menyimpang dari ketentuan-ketentuanMu. Bukalah kembali hati yang sudah menghitam legam ini. Bersihkanlah debu-debu dan sampah-sampah yang telah menumpuk dalam diri ini Tuhan. Tuhan, hanya dengan penyesalan dan kucuran air mata ini yang dapat aku gunakan sebagai bukti tanpa sedikitpun memalingkan hati, betapa menyesalnya diriku akan besarnya dosa-dosa yang telah aku lakukan. Tuhan, lindungilah diri ini, bentengilah kembali hati ini, sucikanlah kembali jiwa dan ragaku. Tuhan, jadikanlah aku sebagai hambamu yang masuk kedalam orang-orang yang merindukan bertatap muka denganmu dihari kemudian. Satukanlah aku dengan golongan-golongan umat-umat nabiku kelak. Tuhan, kabulkanlah doa dan permohonan mendalam ini. Terimalah sujud hamba yang penuh dosa ini. Tumbuhkanlah kembali kepatuhan dan kepatutan pada diriku Tuhan. Tuhan, sekali lagi kabulkanlah do’a hambamu ini.

Saat ini tidak terasa lagi hawa dingin yang sembari tadi berusaha menembus lebih dalam lagi sum-sum tulangku. Yang aku dapatkan hanyalah kehangatan dan kemesraan bersama Sang Ilahi. Setelah ini aku berjanji, akan selalu mengunjungimu yang selalu rindu dengan kehadiranku untuk mengadu. Akan aku ikuti rel-rel yang telah kau tetapkan untuk membimbingku jauh dari kesesatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar