SOTO
CERMIN PLURALITAS
“Siang-siang
gini enaknya makan dimana ya?”
“Hmm…gimana
kalau kita mampir ke warung soto Lamongan?”
“Ide
yang bagus! Tapi aku ingin coba soto Banjar yang ada di dekat perempatan A.
Yani.”
“Ya,
kalau begitu aku ikut aja deh”
“Tapi
nggak apa-apa kan? Soalnya aku pengen cari tau apa sih bedanya”
“Iya
nggak apa-apa kok, aku udah tau bedanya. Ayo berangkat!”
Kaki-kaki
letih kami sepulang kuliah terarahkan menuju warung soto Banjar yang telah kami
rencanakan. Letaknya tidak terlalu jauh dari kampus kami, hanya butuh waktu 10
menit untuk berjalan kaki. Matahari tidak dapat memancarkan sinarnya dengan
bebas karena sang awan masih berusaha mendekapnya dengan erat. Musim-musim
ekstrim seperti ini memang tidak bisa diduga kapan panas dan hujan tiba.
Matahari dan awan selalu berebut peran setiap harinya. Jatah periodik yang
seharusnya mereka perhatikan kini hanyalah menjadi wacana di buku-buku
pelajaran belaka. Mereka bebas muncul kapan saja semau mereka. Suasana semi
panas dan semi mendung seperti ini menciptakan hawa gerah yang luar biasa,
sehingga dalam hal makanan, makanan berkuah lah yang cocok untuk diburu para
pencari isi perut. Keuntungan cuaca seperti ini bagi kami, kami tidak harus
bersusah payah berteduh untuk sekedar mengentas serangan salah satu dari
mereka. Kadang kalau surya dengan ganas membakar setengah bola ini, kami selalu
mencari tempat bertenduh sementara untuk sekedar mendinginkan kembali
kulit-kulit kami dari sengatannya. Jika awan mengeluarkan air mata dahsyatnya,
kami harus lari pontang-panting mencari tempat berteduh agar tubuh kami tidak
basah kuyup diserangnya. Di emperan-emperan toko, teras-teras rumah dipinggir
jalan, atau bahkan di bawah jalan layang.
Tidak
terasa, sambil berbincang-bincang ringan di jalan, kami telah sampai pada
sebuah warung yang tidak terlalu besar di pojok kanan dekat kepadatan lampu
merah perempatan Jalan Ahmad Yani. Warung Soto Banjar. Aku dan temanku dibuat
tercengang seketika melihat deretan manusia mulai dari usia dibawah hingga
diatas kami, membentuk formasi deret memanjang ke belakang. Ada rasa keraguan
bagiku untuk menyebrang jalan menuju tempat itu untuk memperpanjang deretan
yang telah ada. Tapi tak apalah, ini semua demi temanku yang ingin merasakan
soto Banjar. Lagipula kami sudah melangkahkan kaki kami menuju tempat ini. Kami
segera melalui zebra cross didepan
kami ketika lampu indikator pejalan kaki sudah mulai menghijau. Tibalah kami
pada deretan yang tadi terlihat dari seberang jalan tempat kami berdiri. Luar
biasa ramainya.
“Wah
ramai begini, andai tadi aku nurutin kamu buat makan soto Lamongan aja, pasti
nggak bakal seperti ini.”
“Loh
nggak apa-apa lagi, lagian setelah ini kita nggak ada kuliah lagi kan.
dinikmati aja itung-itung gotong royong”
“Gotong
royong model apa ini?”
“hehehe…gotong
royong model jigsaw, ular-ularan,
atau model lain juga boleh.”
“Ah
sialan, malah bercanda ni orang”
“Hehe..dibuat
nyantai aja, ntar juga giliran kita yang maju.”
“Oke-oke,
huftt”
Sekitar
15 menit kami terjun kedalam kemacetan manusia yang berebut semangkok soto
Banjar dengan kuah lezatnya tersebut. Tak terasa, aku rasakan ada sesuatu yang
mengalir dari punggungku. Keringat mulai berkucuran karena pengapnya berada
ditengah-tengah antrian ini. Kini kami telah berada persis dihadapan pelayan di
warung ini.
“Pesan
berapa mas? Dibungkus apa dimakan disini?”
“Pesan
2 mangkok bu, dimakan disini”
“Minumnya
mas?”
“Saya
es the manis bu”
“Saya
es jeruk bu”
“Kalian
tunggu di meja ya, ini nomor mejanya”
Kami
memperoleh nomor meja 11 yang berada dipojok ruangan yang berukuran sekitar 6x7
meter ini. Kegerahan yang kami rasakan mulai memudar dengan tiupan angin yang
keluar dari kipas angin besar didekat televisi 21 inch yang terletak disebelah kami. Sejuk rasanya tertolong oleh
angin buatan dari hasil teknologi ini. Tak begitu lama kami menunggu, akhirnya
soto Banjar dan minuman yang kami pesan telah tiba di meja kami. Perut yang
telah lama mengering akhirnya dapat merasakan kepuasan setelah kuah soto
pertama masuk melewati mulut dan kerongkongan kami. Kuah soto Banjar memang
segar sekali. Kami berdua makan dengan lahap. Kadang sesekali kami harus batuk
karena terlalu tergesa-gesa menghabiskan kuah soto yang masih tersisa di
mangkok ukuran jumbo yang ada.
Setelah
makanan dan minuman kami kosong meninggalkan wadahnya, kami segera berdiri
menuju kasir untuk menyelesaikan pembayaran yang telah tertulis pada struk yang
ada di meja kami. Lagipula kami tidak bisa santai berlama-lama meskipun sekedar
menunggu soto dan minuman sampai semua turun ke perut kami. Orang-orang yang
berjubel antri telah siap mengeliminasi kami dari meja 11. Setelah membayar,
kami segera menuju tempat kos masing-masing yang letaknya cukup berdekatan.
“Sumpah,
enak banget ya soto Banjarnya. Nggak kalah deh dari soto-soto yang lain.”
“Hehe..itulah
kerennya Indonesia.”
“Kapan-kapan
kita berburu soto lagi ya, aku pengen ajak kamu ke cotto Makassar. Pasti
setelah rasain kamu ketagihan!”
“Siap
bos! Asal ada yang traktir. Hehe”
“Gila
kamu. Senasib sepenanggungan gini.”
“Ya
nunggu kamu ulang tahun aja kita makan sotonya. Hehehe”
Akhirnya
setelah berbincang-bincang di sepanjang jalan, kami sampai di tempat kos
masing-masing. Akupun segera menuju kosku, begitupun temanku. Didalam kamar kos
aku segera mencopot hem yang aku kenakan. Kegerahan kembali melandaku. Aku
membuka jendela kamarku lebar-lebar untuk mengundang sang angin bertamu ke
dalam kamarku. Kenikmatanku dalam merasakan masuknya angin di kamar membuatku
terhanyut dalam sayup-sayup angin ini. Fikiranku kali ini dipenuhi dengan
perenungan atas mata kuliah yang aku dapatkan hari ini. Aku mendapatkan mata
kuliah yang membahas tentang kerukunan dan pluralitas bangsa. Bangsa ini adalah
bangsa yang beragam suku, agama, kepercayaan, RAS, dan golongan, seperti
layaknya berbagai macam soto yang ada di bumi pertiwi ini. Ada soto Banjar yang
tadi aku makan, ada soto Lamongan, ada cotto Makassar, ada rujak soto di
Banyuwangi, ada soto Madura, dan berbagai soto yang lain. Keprihatinanku adalah
semakin meluasnya paham-paham bahwa bangsa ini harus disamaratakan, ada yang
berkoar-koar ingin meng-Islam-kan Indonesia, ada yang berteriak negeri ini
harus sama rata sama rasa, dan paham-paham lain yang membuat semangat
pluralitas dan integritas bangsa ini kian menurun. Padahal kita semua tahu,
bangsa ini terbentuk karena keragaman yang ada didalamnya. Kita tidak bisa
menyamaratakan perbedaan yang sudah ada karena justru perbedaan yang ada itulah
yang menjadi pemerkaya negeri tercinta ini. Tidak ada suku, agama, atau
golongan di Indonesia yang lebih kuat, lebih berani, lebih gagah, dan lebih
perkasa. Semua satu dan semua sama. Mayoritas bukanlah pemegang kuasa karena
minoritas yang ada masih punya eksistensi yang harus diakui oleh sang
mayoritas. Masyarkat harus kembali berfikir jernih dalam melihat fenomena
disintegrasi yang ada. Satu tidak selalu sama, satu tidak selalu berarti
seragam, sama juga tidak juga selalu berwajah sama pula. Kita tahu istilah
siswa. Apakah sebutan siswa hanya diperuntukkan untuk mereka yang hanya
berseragam putih merah? Ataukah hanya untuk mereka yang berseragam putih biru?
Ataukah hanyalah untuk mereka yang berseragam putih abu-abu?
Pluralitas
harus dipertahankan dan selalu dihidupkan dalam negara kita tercinta. Bayangkan
jika perbedaan yang ada disamakan dan diseragamkan. Bagaimana wujudnya?
Bagaimana dengan budaya-budaya yang tercipta dari hasil kristalisasi
masing-masing daerah? Apakah semua harus berkopyah? Ataukan semua harus memakai
koteka?
Ya,
biarkanlah soto tercipta dengan berbagai macam bentuk dan rasa sesuai darimana
asal daerahnya. Soto yang ada biarlah memiliki cita rasa yang berbeda. Selama
lidah kita masih bisa menerima perbedaan cita rasanya, tidaklah menjadi sebuah
masalah. Sangatlah mustahil jika soto-soto yang ada kita paksakan untuk sama.
Tidak mungkin soto-soto yang ada kita masukkan kedalam satu wadah dan dicampur
aduk hingga rata. Jika seperti itu, sangatlah munafik orang yang mengatakan
bahwa campuran berbagai macam soto itu masih terasa lezat seperti sediakala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar