Senin, 13 Januari 2014

SOTO CERMIN PLURALITAS
“Siang-siang gini enaknya makan dimana ya?”
“Hmm…gimana kalau kita mampir ke warung soto Lamongan?”
“Ide yang bagus! Tapi aku ingin coba soto Banjar yang ada di dekat perempatan A. Yani.”
“Ya, kalau begitu aku ikut aja deh”
“Tapi nggak apa-apa kan? Soalnya aku pengen cari tau apa sih bedanya”
“Iya nggak apa-apa kok, aku udah tau bedanya. Ayo berangkat!”
Kaki-kaki letih kami sepulang kuliah terarahkan menuju warung soto Banjar yang telah kami rencanakan. Letaknya tidak terlalu jauh dari kampus kami, hanya butuh waktu 10 menit untuk berjalan kaki. Matahari tidak dapat memancarkan sinarnya dengan bebas karena sang awan masih berusaha mendekapnya dengan erat. Musim-musim ekstrim seperti ini memang tidak bisa diduga kapan panas dan hujan tiba. Matahari dan awan selalu berebut peran setiap harinya. Jatah periodik yang seharusnya mereka perhatikan kini hanyalah menjadi wacana di buku-buku pelajaran belaka. Mereka bebas muncul kapan saja semau mereka. Suasana semi panas dan semi mendung seperti ini menciptakan hawa gerah yang luar biasa, sehingga dalam hal makanan, makanan berkuah lah yang cocok untuk diburu para pencari isi perut. Keuntungan cuaca seperti ini bagi kami, kami tidak harus bersusah payah berteduh untuk sekedar mengentas serangan salah satu dari mereka. Kadang kalau surya dengan ganas membakar setengah bola ini, kami selalu mencari tempat bertenduh sementara untuk sekedar mendinginkan kembali kulit-kulit kami dari sengatannya. Jika awan mengeluarkan air mata dahsyatnya, kami harus lari pontang-panting mencari tempat berteduh agar tubuh kami tidak basah kuyup diserangnya. Di emperan-emperan toko, teras-teras rumah dipinggir jalan, atau bahkan di bawah jalan layang.
Tidak terasa, sambil berbincang-bincang ringan di jalan, kami telah sampai pada sebuah warung yang tidak terlalu besar di pojok kanan dekat kepadatan lampu merah perempatan Jalan Ahmad Yani. Warung Soto Banjar. Aku dan temanku dibuat tercengang seketika melihat deretan manusia mulai dari usia dibawah hingga diatas kami, membentuk formasi deret memanjang ke belakang. Ada rasa keraguan bagiku untuk menyebrang jalan menuju tempat itu untuk memperpanjang deretan yang telah ada. Tapi tak apalah, ini semua demi temanku yang ingin merasakan soto Banjar. Lagipula kami sudah melangkahkan kaki kami menuju tempat ini. Kami segera melalui zebra cross didepan kami ketika lampu indikator pejalan kaki sudah mulai menghijau. Tibalah kami pada deretan yang tadi terlihat dari seberang jalan tempat kami berdiri. Luar biasa ramainya.
“Wah ramai begini, andai tadi aku nurutin kamu buat makan soto Lamongan aja, pasti nggak bakal seperti ini.”
“Loh nggak apa-apa lagi, lagian setelah ini kita nggak ada kuliah lagi kan. dinikmati aja itung-itung gotong royong”
“Gotong royong model apa ini?”
“hehehe…gotong royong model jigsaw, ular-ularan, atau model lain juga boleh.”
“Ah sialan, malah bercanda ni orang”
“Hehe..dibuat nyantai aja, ntar juga giliran kita yang maju.”
“Oke-oke, huftt”
Sekitar 15 menit kami terjun kedalam kemacetan manusia yang berebut semangkok soto Banjar dengan kuah lezatnya tersebut. Tak terasa, aku rasakan ada sesuatu yang mengalir dari punggungku. Keringat mulai berkucuran karena pengapnya berada ditengah-tengah antrian ini. Kini kami telah berada persis dihadapan pelayan di warung ini.
“Pesan berapa mas? Dibungkus apa dimakan disini?”
“Pesan 2 mangkok bu, dimakan disini”
“Minumnya mas?”
“Saya es the manis bu”
“Saya es jeruk bu”
“Kalian tunggu di meja ya, ini nomor mejanya”
Kami memperoleh nomor meja 11 yang berada dipojok ruangan yang berukuran sekitar 6x7 meter ini. Kegerahan yang kami rasakan mulai memudar dengan tiupan angin yang keluar dari kipas angin besar didekat televisi 21 inch yang terletak disebelah kami. Sejuk rasanya tertolong oleh angin buatan dari hasil teknologi ini. Tak begitu lama kami menunggu, akhirnya soto Banjar dan minuman yang kami pesan telah tiba di meja kami. Perut yang telah lama mengering akhirnya dapat merasakan kepuasan setelah kuah soto pertama masuk melewati mulut dan kerongkongan kami. Kuah soto Banjar memang segar sekali. Kami berdua makan dengan lahap. Kadang sesekali kami harus batuk karena terlalu tergesa-gesa menghabiskan kuah soto yang masih tersisa di mangkok ukuran jumbo yang ada.
Setelah makanan dan minuman kami kosong meninggalkan wadahnya, kami segera berdiri menuju kasir untuk menyelesaikan pembayaran yang telah tertulis pada struk yang ada di meja kami. Lagipula kami tidak bisa santai berlama-lama meskipun sekedar menunggu soto dan minuman sampai semua turun ke perut kami. Orang-orang yang berjubel antri telah siap mengeliminasi kami dari meja 11. Setelah membayar, kami segera menuju tempat kos masing-masing yang letaknya cukup berdekatan.
“Sumpah, enak banget ya soto Banjarnya. Nggak kalah deh dari soto-soto yang lain.”
“Hehe..itulah kerennya Indonesia.”
“Kapan-kapan kita berburu soto lagi ya, aku pengen ajak kamu ke cotto Makassar. Pasti setelah rasain kamu ketagihan!”
“Siap bos! Asal ada yang traktir. Hehe”
“Gila kamu. Senasib sepenanggungan gini.”
“Ya nunggu kamu ulang tahun aja kita makan sotonya. Hehehe”
Akhirnya setelah berbincang-bincang di sepanjang jalan, kami sampai di tempat kos masing-masing. Akupun segera menuju kosku, begitupun temanku. Didalam kamar kos aku segera mencopot hem yang aku kenakan. Kegerahan kembali melandaku. Aku membuka jendela kamarku lebar-lebar untuk mengundang sang angin bertamu ke dalam kamarku. Kenikmatanku dalam merasakan masuknya angin di kamar membuatku terhanyut dalam sayup-sayup angin ini. Fikiranku kali ini dipenuhi dengan perenungan atas mata kuliah yang aku dapatkan hari ini. Aku mendapatkan mata kuliah yang membahas tentang kerukunan dan pluralitas bangsa. Bangsa ini adalah bangsa yang beragam suku, agama, kepercayaan, RAS, dan golongan, seperti layaknya berbagai macam soto yang ada di bumi pertiwi ini. Ada soto Banjar yang tadi aku makan, ada soto Lamongan, ada cotto Makassar, ada rujak soto di Banyuwangi, ada soto Madura, dan berbagai soto yang lain. Keprihatinanku adalah semakin meluasnya paham-paham bahwa bangsa ini harus disamaratakan, ada yang berkoar-koar ingin meng-Islam-kan Indonesia, ada yang berteriak negeri ini harus sama rata sama rasa, dan paham-paham lain yang membuat semangat pluralitas dan integritas bangsa ini kian menurun. Padahal kita semua tahu, bangsa ini terbentuk karena keragaman yang ada didalamnya. Kita tidak bisa menyamaratakan perbedaan yang sudah ada karena justru perbedaan yang ada itulah yang menjadi pemerkaya negeri tercinta ini. Tidak ada suku, agama, atau golongan di Indonesia yang lebih kuat, lebih berani, lebih gagah, dan lebih perkasa. Semua satu dan semua sama. Mayoritas bukanlah pemegang kuasa karena minoritas yang ada masih punya eksistensi yang harus diakui oleh sang mayoritas. Masyarkat harus kembali berfikir jernih dalam melihat fenomena disintegrasi yang ada. Satu tidak selalu sama, satu tidak selalu berarti seragam, sama juga tidak juga selalu berwajah sama pula. Kita tahu istilah siswa. Apakah sebutan siswa hanya diperuntukkan untuk mereka yang hanya berseragam putih merah? Ataukah hanya untuk mereka yang berseragam putih biru? Ataukah hanyalah untuk mereka yang berseragam putih abu-abu?
Pluralitas harus dipertahankan dan selalu dihidupkan dalam negara kita tercinta. Bayangkan jika perbedaan yang ada disamakan dan diseragamkan. Bagaimana wujudnya? Bagaimana dengan budaya-budaya yang tercipta dari hasil kristalisasi masing-masing daerah? Apakah semua harus berkopyah? Ataukan semua harus memakai koteka?

Ya, biarkanlah soto tercipta dengan berbagai macam bentuk dan rasa sesuai darimana asal daerahnya. Soto yang ada biarlah memiliki cita rasa yang berbeda. Selama lidah kita masih bisa menerima perbedaan cita rasanya, tidaklah menjadi sebuah masalah. Sangatlah mustahil jika soto-soto yang ada kita paksakan untuk sama. Tidak mungkin soto-soto yang ada kita masukkan kedalam satu wadah dan dicampur aduk hingga rata. Jika seperti itu, sangatlah munafik orang yang mengatakan bahwa campuran berbagai macam soto itu masih terasa lezat seperti sediakala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar