WONG
CILIK,
SIMBOL YANG SEMU
Sudah
lebih dari seminggu ini aku melewati jalan baru. Sebenarnya bukan jalannya yang
baru, tapi peraturan penggunaannya yang baru. Dulu jalan ini masih dipergunakan
dengan sistem double way, namun
seiring dengan kebutuhan dan mengatasi kemacetan kini dirubah menjadi sistem one way. Peraturan baru ini merupakan
langkah baru bagi kepemimpinan Walikota yang baru terpilih untuk mengatasi
segala keluh kesah masyarakat terkait dengan kemacetan kota Malang yang sudah
semakin memprihatinkan. Tidak heran jika hampir seluruh masyarakat harus gigit
jari melihat kesemrawutan kota yang makin tak terkendali bagai luapan air yang
tertuang pada sebuah mangkok kecil. Setiap hari aku harus merasakannya, merasakan
bagaimana berpacu dalam sebuah kemacetan luar biasa. Ya, ini masih berbicara
masalah kota tempat dimana aku menimba ilmu lanjutan. Aku tidak berani
berbicara masalah Ibu Kota Jakarta.
Tampak
deretan banner, kain kafan yang
memanjang, tong-tong besar, pot plastik dan berbagai macam hasil seni rupa
tangan-tangan rakyat terpasang di sepanjang jalur yang aku lewati. Pemandangan
yang dapat menyejukkan atau memanaskan mata ini dapat disaksikan mulai dari
daerah kampus UIN sampai berputar mengarah ke taman makam pahlawan. Tidak
perduli sengatan surya atau guyuran air mata sang awan, asesoris-asesoris
jalanan yang ada tetap terpasang kokoh seperti benteng perang. Pasti bukan
deretan tulisan untuk pemilihan, melainkan deretan tulisan sebagai bentuk
protes terhadap kebijakan yang dianggap gambling. Bukan budaya kita kalau
setiap pemasangan-pemasangan protes tidak disertai kata-kata jalang.
“Kami
wong cilik, menolak pemberlakuan one way. Mana janjimu Abah Anton?”
“Endi
janjine Abah Anton? Jare mbelani wong cilik, tapi kok malah nyusahne wong
cilik?”
“Janjimu
busuk! Kami wong cilik semakin sengsara”
Dan
masih banyak deretan kata-kata yang tidak bisa aku hafal satu-persatu. Mataku
tidak henti-hentinya melihat berbagai variasi seni yang mereka ungkapkan. Dari
menulis dengan media cat, spidol hingga banner-banner besar yang sudah terdesign secara apik dengan cetakan digital printing yang sempurna. Kalau
boleh memperkirakan taksiran biaya untuk menghiasi jalan umum itu, sepertinya
tidak murah dan tidak sedikit biaya yang dibutuhkan.
Pribadiku
sebetulnya biasa-biasa saja, sepanjang tujuan diadakannya perubahan jalur itu
untuk sebuah kemajuan yang dijalani saja. Toh belum lama juga one way ini diterapkan. Masih butuh adaptasi-adaptasi
jangka panjang untuk mengambil kesimpulan yang bisa melahirkan embrio-embrio
provokatif. Namun jika diadakannya jalan satu arah tersebut hanya menimbulkan
masalah baru (seperti yang dikatakan wong cilik : banyak korban tabrak lari,
macetnya bertambah, jualan susah, dan sejuta alasan lain), jangan sampai
prosesnya diperlama. Ada hal menarik yang membuat otakku harus berputar-putar
memikirkan hal tersebut. Banyak sekali, tapi aku hanya bisa memaparkan sedikit
dalam tulisan ini.
Pertama,
sejatinya di kota ini suasana persaingan ketat perebutan tahta walikota masih
meninggalkan bekas yang masih bisa dijamah oleh panca indra.
Pengalaman-pengalaman yang sudah ada sebelumnya, pasti pihak-pihak yang kalah
tidak akan pernah terima dengan sang pemenang tahta. Hampir di setiap daerah
terjadi hal yang sama. Beragam cara dilakukan untuk mencari-cari kesalahan
sekecil apapun yang dilakukan oleh pemegang kuasa. Intinya mereka-mereka yang
kalah sering mencari kesempatan dalam kesesakan. Cara jitu yang biasa digunakan
biasanya adalah mencari pasukan yang siap dan rela mati berperang. Mereka akan
mencari pengikut-pengikut yang tergiur oleh uang utuk mematuhi perintah yang
harus mereka jalankan. Bersedia, siap, ya……begitu pistol komando dilepaskan,
maka rakyat-rakyat yang tidak berdosa ini siap menjadi korban.
Kedua
yang menggelitik otakku adalah istilah wong
cilik yang mulai menjamur seperti boy
band dan girl band yang saat ini digandrungi oleh pemuda-pemudi
kita. Wong cilik, dalam bahasa
Indonesia biasa kita kenal sebagai rakyat kecil. Kenapa dengan rakyat kecil? Apakah
benar-benar rakyat kecil, atau rakyat yang sengaja dikecilkan atau juga mental
rakyat kita yang suka mengaku kecil? Aku ingin mengajak semua untuk berfikir
dan mengkaji ulang istilah tersebut dengan kenyataan yang terjadi di lapangan.
Sepanjang jalur yang terpasangi hiasan-hiasan tangan maupun digital tersebut hampir semuanya
terpasang kata-kata wong cilik.
Istilah tersebut sudah seperti logo wajib yang harus terpasang saat melakukan
aksi di lapangan. Ayo memainkan logika. Menurut pemahaman kalian, rakyat kecil
itu seperti apa? Semoga apa yang aku paparkan ada sinkronisasi dengan apa yang
kalian artikan. Menurutku rakyat kecil itu rakyat yang hidup dibawah garis
batas hidup normal. Mereka setiap hari sibuk memikirkan apa yang harus mereka
makan. Jangankan memikirkan politik, politik saja terkadang mereka tidak paham,
bahkan cenderung menilai bahwa politik itu bajingan (ups). Aku masih ingat
ketika nonton film calo presiden, ada dialog menarik yang kurang lebih seperti
ini (aku ingat substansinya, tapi tidak ingat mirip kata-katanya).
“ibu,
kita harus perduli dengan nasib masyarakat kita kedepannya. Dengan cara memilih
pasangan yang benar dan memiliki tujuan kedepan yang jelas”
“buat
apa pak, janji-janji mereka busuk, kalau sudah jadi apa nasib kita bisa
berubah? Mereka pasti melupakan kita pak. Aku milih yang ada duitnya saja,
kapan lagi aku sejahtera kalau nggak musim-musim sekarang”.
Pandangan
seperti itu hampir dimiliki oleh rakyat kecil yang memang benar-benar kecil,
bukan rakyat yang bermental kecil dan dibuat kecil oleh sistem. Nah kalau
seperti itu, kira-kira mampukah wong
cilik yang terlogokan pada setiap tulisan yang terpampang disepanjang jalan
mengeluarkan biaya yang cukup besar? Apa mereka tahu tentang desain banner?, apa mereka sanggup
membeli kain-kain kafan panjang yang terbentang sepanjang jalan? Apa mereka
mampu membeli cat berwarna-warni yang mempelangikan jalan? Aku rasa jika
benar-benar rakyat kecil yang melakukan, mereka harus berpuasa penuh selama
beberapa bulan. Untuk uang makan saja rakyat kecil harus berkeliling menjajakan
Koran, mengayuh becaknya, menyetir angkotnya dan kegiatan-kegiatan adu nasib
lainnya. Nah, coba disinkronkan dengan kewajaran dan kenyataan. Aku yakin
kalian bisa mengambil kesimpulan secara lebih bijak.
Aku tidak ingin
menambah masalah, aku hanya ingin mengungkapkan pemikiran. Aku yakin kebenaran
akan berdiri tegak ketika waktu yang tepat telah datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar