Senin, 23 Desember 2013

Wong Cilik

WONG CILIK, SIMBOL YANG SEMU
Sudah lebih dari seminggu ini aku melewati jalan baru. Sebenarnya bukan jalannya yang baru, tapi peraturan penggunaannya yang baru. Dulu jalan ini masih dipergunakan dengan sistem double way, namun seiring dengan kebutuhan dan mengatasi kemacetan kini dirubah menjadi sistem one way. Peraturan baru ini merupakan langkah baru bagi kepemimpinan Walikota yang baru terpilih untuk mengatasi segala keluh kesah masyarakat terkait dengan kemacetan kota Malang yang sudah semakin memprihatinkan. Tidak heran jika hampir seluruh masyarakat harus gigit jari melihat kesemrawutan kota yang makin tak terkendali bagai luapan air yang tertuang pada sebuah mangkok kecil. Setiap hari aku harus merasakannya, merasakan bagaimana berpacu dalam sebuah kemacetan luar biasa. Ya, ini masih berbicara masalah kota tempat dimana aku menimba ilmu lanjutan. Aku tidak berani berbicara masalah Ibu Kota Jakarta.
Tampak deretan ­banner, kain kafan yang memanjang, tong-tong besar, pot plastik dan berbagai macam hasil seni rupa tangan-tangan rakyat terpasang di sepanjang jalur yang aku lewati. Pemandangan yang dapat menyejukkan atau memanaskan mata ini dapat disaksikan mulai dari daerah kampus UIN sampai berputar mengarah ke taman makam pahlawan. Tidak perduli sengatan surya atau guyuran air mata sang awan, asesoris-asesoris jalanan yang ada tetap terpasang kokoh seperti benteng perang. Pasti bukan deretan tulisan untuk pemilihan, melainkan deretan tulisan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan yang dianggap gambling. Bukan budaya kita kalau setiap pemasangan-pemasangan protes tidak disertai kata-kata jalang.
“Kami wong cilik, menolak pemberlakuan one way. Mana janjimu Abah Anton?”
“Endi janjine Abah Anton? Jare mbelani wong cilik, tapi kok malah nyusahne wong cilik?”
“Janjimu busuk! Kami wong cilik semakin sengsara”
Dan masih banyak deretan kata-kata yang tidak bisa aku hafal satu-persatu. Mataku tidak henti-hentinya melihat berbagai variasi seni yang mereka ungkapkan. Dari menulis dengan media cat, spidol hingga banner-banner besar yang sudah terdesign secara apik dengan cetakan digital printing yang sempurna. Kalau boleh memperkirakan taksiran biaya untuk menghiasi jalan umum itu, sepertinya tidak murah dan tidak sedikit biaya yang dibutuhkan.
Pribadiku sebetulnya biasa-biasa saja, sepanjang tujuan diadakannya perubahan jalur itu untuk sebuah kemajuan yang dijalani saja. Toh belum lama juga one way  ini diterapkan. Masih butuh adaptasi-adaptasi jangka panjang untuk mengambil kesimpulan yang bisa melahirkan embrio-embrio provokatif. Namun jika diadakannya jalan satu arah tersebut hanya menimbulkan masalah baru (seperti yang dikatakan wong cilik : banyak korban tabrak lari, macetnya bertambah, jualan susah, dan sejuta alasan lain), jangan sampai prosesnya diperlama. Ada hal menarik yang membuat otakku harus berputar-putar memikirkan hal tersebut. Banyak sekali, tapi aku hanya bisa memaparkan sedikit dalam tulisan ini.
Pertama, sejatinya di kota ini suasana persaingan ketat perebutan tahta walikota masih meninggalkan bekas yang masih bisa dijamah oleh panca indra. Pengalaman-pengalaman yang sudah ada sebelumnya, pasti pihak-pihak yang kalah tidak akan pernah terima dengan sang pemenang tahta. Hampir di setiap daerah terjadi hal yang sama. Beragam cara dilakukan untuk mencari-cari kesalahan sekecil apapun yang dilakukan oleh pemegang kuasa. Intinya mereka-mereka yang kalah sering mencari kesempatan dalam kesesakan. Cara jitu yang biasa digunakan biasanya adalah mencari pasukan yang siap dan rela mati berperang. Mereka akan mencari pengikut-pengikut yang tergiur oleh uang utuk mematuhi perintah yang harus mereka jalankan. Bersedia, siap, ya……begitu pistol komando dilepaskan, maka rakyat-rakyat yang tidak berdosa ini siap menjadi korban.
Kedua yang menggelitik otakku adalah istilah wong cilik yang mulai menjamur seperti boy band dan  girl band  yang saat ini digandrungi oleh pemuda-pemudi kita. Wong cilik, dalam bahasa Indonesia biasa kita kenal sebagai rakyat kecil. Kenapa dengan rakyat kecil? Apakah benar-benar rakyat kecil, atau rakyat yang sengaja dikecilkan atau juga mental rakyat kita yang suka mengaku kecil? Aku ingin mengajak semua untuk berfikir dan mengkaji ulang istilah tersebut dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Sepanjang jalur yang terpasangi hiasan-hiasan tangan maupun digital tersebut hampir semuanya terpasang kata-kata wong cilik. Istilah tersebut sudah seperti logo wajib yang harus terpasang saat melakukan aksi di lapangan. Ayo memainkan logika. Menurut pemahaman kalian, rakyat kecil itu seperti apa? Semoga apa yang aku paparkan ada sinkronisasi dengan apa yang kalian artikan. Menurutku rakyat kecil itu rakyat yang hidup dibawah garis batas hidup normal. Mereka setiap hari sibuk memikirkan apa yang harus mereka makan. Jangankan memikirkan politik, politik saja terkadang mereka tidak paham, bahkan cenderung menilai bahwa politik itu bajingan (ups). Aku masih ingat ketika nonton film calo presiden, ada dialog menarik yang kurang lebih seperti ini (aku ingat substansinya, tapi tidak ingat mirip kata-katanya).
“ibu, kita harus perduli dengan nasib masyarakat kita kedepannya. Dengan cara memilih pasangan yang benar dan memiliki tujuan kedepan yang jelas”
“buat apa pak, janji-janji mereka busuk, kalau sudah jadi apa nasib kita bisa berubah? Mereka pasti melupakan kita pak. Aku milih yang ada duitnya saja, kapan lagi aku sejahtera kalau nggak musim-musim sekarang”.
Pandangan seperti itu hampir dimiliki oleh rakyat kecil yang memang benar-benar kecil, bukan rakyat yang bermental kecil dan dibuat kecil oleh sistem. Nah kalau seperti itu, kira-kira mampukah wong cilik yang terlogokan pada setiap tulisan yang terpampang disepanjang jalan mengeluarkan biaya yang cukup besar? Apa mereka tahu tentang desain banner?, apa mereka sanggup membeli kain-kain kafan panjang yang terbentang sepanjang jalan? Apa mereka mampu membeli cat berwarna-warni yang mempelangikan jalan? Aku rasa jika benar-benar rakyat kecil yang melakukan, mereka harus berpuasa penuh selama beberapa bulan. Untuk uang makan saja rakyat kecil harus berkeliling menjajakan Koran, mengayuh becaknya, menyetir angkotnya dan kegiatan-kegiatan adu nasib lainnya. Nah, coba disinkronkan dengan kewajaran dan kenyataan. Aku yakin kalian bisa mengambil kesimpulan secara lebih bijak.
Aku tidak ingin menambah masalah, aku hanya ingin mengungkapkan pemikiran. Aku yakin kebenaran akan berdiri tegak ketika waktu yang tepat telah datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar