SELODOR TELAH TANGGAL
“rek
ayo selodoran”
“arek-areke
podo ndek ndi, mek sitik ngene mosok arep selodoran?”
“iyo
sek, ngenteni. Liyane jare arep rene mari mangan”
“sek
tak itung, siji, loro, telu, papat. Sek kurang papat maneh, lek nggak telu yoe
nggak opo-opo”
“iyo,
mari iki teko. Lah iku arek-areke. Lebih teko telu malah”
“rek,
jare selodoran?ayo ngenteni opo?papat-papat disek ayo”
“yoe
ngenteni kon podo rek, ayo-ayo mumpung maghrib sek adoh”.
Dialek
Jawa tersebut sering sekali terdengar ketika usiaku dan teman-teman sebayaku
setingkat kelas 3 sampai kelas 1 SMP. Rutinitas harian tersebut selalu kami
lakukan setelah waktu ashar tiba hingga menjelang matahari perlahan-lahan
singgah di ufuk barat. Selodor yang membuat kami menjadi teman yang solid.
Selodor yang telah mengajarkan kami berbagai nilai positif baik secara langsung
maupun tidak, memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan kami. Ya,
kerja keras, konsentrasi, kerjasama, lapang dada, teliti, dan nilai-nilai
positif yang lain telah tercampur menjadi satu dalam sebungkus coklat manis
untuk anak-anak seumuran kami saat itu.
Kegembiraan
anak-anak pemain selodor selalu diikuti oleh senyum ramah mentari di sore hari.
Selodor, merupakan istilah permainan di daerah kami. Bentuk permainan ini sangat
sederhana. Pertama yang harus dilakukan adalah menentukan jumlah pemain,
biasanya pemain terdiri dari 3 sampai 4 orang penjaga daerah terlarang dan
dengan jumlah yang sama berperan sebagai penerobos benteng yang dijaga oleh
mereka yang bertugas mengamankan medan. Medan yang digunakan berada di atas
tanah lapang yang luasnya cukup untuk menggambar pesegi panjang dengan batang
kayu atau sebuah batu. Persegi panjang tersebut kemudian dibagi menjadi 3
sampai empat pesegi panjang lagi, sesuai dengan jumlah pemain yang ada. Setelah
medan jadi, maka secara bergantian sesuai dengan kesepakatan, satu regu (3-4
orang) bertugas menjaga medan agar lawan tidak bisa menerobos hingga ke persegi
terakhir, dan regu lain menjadi penerobos persegi demi persegi yang didalamnya
telah berdiri penjaga medan yang siap menerkam. Ya begitulah sedikit gambaran
tentang permainan selodor di kampung kami. Permainan selodor yang kami lakukan
dapat memakan waktu berjam-jam sampai langit melukiskan tinta biru kombinasi
oranyenya dihadapan kami. Ketika kami bosan hanya sekedar bermain selodor, kami
biasanya mengganti dengan permainan lain, semisal petak umpet, ular-ularan,
atau permainan tradisional yang lain. Selodor mungkin 10 tahun yang lalu
dikenal luas hampir diseluruh daerah dengan nama berbeda-beda. Tetapi saat ini,
wujud nyata selodor sulit ditemukan lagi, atau bahkan sudah tidak dikenal lagi
oleh adek-adek kecil kita saat ini.
Selodor
yang dulu menjadi permainan prioritas kami, kini tidak lebih dari permainan ndeso yang hanya mengotori. Debu, tanah,
menjadi kambing hitam yang selalu dijatuhi vonis oleh orang-orang tua gaul
kepada sang buah hati. Tanah lapang tempat selodor dilakukan kini telah berubah
menjadi sebuah tempat yang sering kita jumpai akhir-akhir ini. Ada yang disulap
menjadi play station centre atau
warnet-warnet dengan hiasan-hiasan desain kartun menarik yang bertuliskan game online. Bagaimanapun
pesulap-pesulap master itu telah berhasil menghipnotis berbagai kalangan
terutama kalangan usia anak. Selodoran kini telah berubah menjadi permainan online berupa poker, final fantasy, counter stike, point black, dan
permainan-permainan teknologi canggil yang lain.
“rek
ayo engko sore njupuk paketan 2 jam yoeh”
“oke
ayo siap. Duwur-duwuran level”
“engko
koncoan ae, aku arep tuku senjata maneh sing lebih enak ben musuh-musuhku
kewalahan”
“iyo
wes poko’e ndang mangan terus ndek warnet, tak nteni ndek warnete mas jo yoeh.
Mumpung promo paketan”
Dialek-dialek
itu saat inipun telah berubah. Aku perhatikan ucapan-ucapan mereka ketika tak
sengaja tubuh ini berpapasan dengan sosok-sosok bocah kecil disamping kiri dari
arah berlawanan. Aku sendiri merasa malu dengan mereka. Dengan usia yang sudah
tidak dapat dikatakan kecil atau bahkan remaja lagi, aku tidak paham dengan apa
yang mereka ucapkan. Apa aku telalu gaptek? Ataukah karena ketidaktertarikanku
menyentuh game online telah membuatku
kurang gaul?
Masa
bodoh lah. Keinginan kuatku tetap satu. Aku ingin menghidupkan kembali
permainan tradisional yang selama ini telah terlupakan dan telah tersingkirkan.
Aku ingin menyadarkan betapa meruginya ketika anak-anak itu harus merogoh kocek
yang mereka dapatkan dari hasil memperkosa kantong-kantong orang tua mereka
demi game online, sementara bayak
permainan menarik yang tidak membutuhkan biaya dapat mereka lakukan
bersama-sama. Selodor tetaplah selodor. Selodor kini telah menjadi wacana asing
yang telah ditanggalkan. Selodor telah menyerupai legenda rakyat yang hanya
terjadi satu kali saja, yaitu masa lalu. Selodor, semoga suatu hari nanti kau temukan
hidupmu lagi. Semoga anak-anak kecil itu dapat menginjak-injak garis yang
menjadi ciri khasmu itu. Selodor. . .
Memperkosa kantong-kantong orang tua. Hahaha siip mas. Keep write ^^
BalasHapus