Senin, 13 Januari 2014

SELODOR TELAH TANGGAL
“rek ayo selodoran”
“arek-areke podo ndek ndi, mek sitik ngene mosok arep selodoran?”
“iyo sek, ngenteni. Liyane jare arep rene mari mangan”
“sek tak itung, siji, loro, telu, papat. Sek kurang papat maneh, lek nggak telu yoe nggak opo-opo”
“iyo, mari iki teko. Lah iku arek-areke. Lebih teko telu malah”
“rek, jare selodoran?ayo ngenteni opo?papat-papat disek ayo”
“yoe ngenteni kon podo rek, ayo-ayo mumpung maghrib sek adoh”.
Dialek Jawa tersebut sering sekali terdengar ketika usiaku dan teman-teman sebayaku setingkat kelas 3 sampai kelas 1 SMP. Rutinitas harian tersebut selalu kami lakukan setelah waktu ashar tiba hingga menjelang matahari perlahan-lahan singgah di ufuk barat. Selodor yang membuat kami menjadi teman yang solid. Selodor yang telah mengajarkan kami berbagai nilai positif baik secara langsung maupun tidak, memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan kami. Ya, kerja keras, konsentrasi, kerjasama, lapang dada, teliti, dan nilai-nilai positif yang lain telah tercampur menjadi satu dalam sebungkus coklat manis untuk anak-anak seumuran kami saat itu.
Kegembiraan anak-anak pemain selodor selalu diikuti oleh senyum ramah mentari di sore hari. Selodor, merupakan istilah permainan di daerah kami. Bentuk permainan ini sangat sederhana. Pertama yang harus dilakukan adalah menentukan jumlah pemain, biasanya pemain terdiri dari 3 sampai 4 orang penjaga daerah terlarang dan dengan jumlah yang sama berperan sebagai penerobos benteng yang dijaga oleh mereka yang bertugas mengamankan medan. Medan yang digunakan berada di atas tanah lapang yang luasnya cukup untuk menggambar pesegi panjang dengan batang kayu atau sebuah batu. Persegi panjang tersebut kemudian dibagi menjadi 3 sampai empat pesegi panjang lagi, sesuai dengan jumlah pemain yang ada. Setelah medan jadi, maka secara bergantian sesuai dengan kesepakatan, satu regu (3-4 orang) bertugas menjaga medan agar lawan tidak bisa menerobos hingga ke persegi terakhir, dan regu lain menjadi penerobos persegi demi persegi yang didalamnya telah berdiri penjaga medan yang siap menerkam. Ya begitulah sedikit gambaran tentang permainan selodor di kampung kami. Permainan selodor yang kami lakukan dapat memakan waktu berjam-jam sampai langit melukiskan tinta biru kombinasi oranyenya dihadapan kami. Ketika kami bosan hanya sekedar bermain selodor, kami biasanya mengganti dengan permainan lain, semisal petak umpet, ular-ularan, atau permainan tradisional yang lain. Selodor mungkin 10 tahun yang lalu dikenal luas hampir diseluruh daerah dengan nama berbeda-beda. Tetapi saat ini, wujud nyata selodor sulit ditemukan lagi, atau bahkan sudah tidak dikenal lagi oleh adek-adek kecil kita saat ini.
Selodor yang dulu menjadi permainan prioritas kami, kini tidak lebih dari permainan ndeso yang hanya mengotori. Debu, tanah, menjadi kambing hitam yang selalu dijatuhi vonis oleh orang-orang tua gaul kepada sang buah hati. Tanah lapang tempat selodor dilakukan kini telah berubah menjadi sebuah tempat yang sering kita jumpai akhir-akhir ini. Ada yang disulap menjadi play station centre atau warnet-warnet dengan hiasan-hiasan desain kartun menarik yang bertuliskan game online. Bagaimanapun pesulap-pesulap master itu telah berhasil menghipnotis berbagai kalangan terutama kalangan usia anak. Selodoran kini telah berubah menjadi permainan online berupa poker, final fantasy, counter stike, point black, dan permainan-permainan teknologi canggil yang lain.
“rek ayo engko sore njupuk paketan 2 jam yoeh”
“oke ayo siap. Duwur-duwuran level”
“engko koncoan ae, aku arep tuku senjata maneh sing lebih enak ben musuh-musuhku kewalahan”
“iyo wes poko’e ndang mangan terus ndek warnet, tak nteni ndek warnete mas jo yoeh. Mumpung promo paketan”
Dialek-dialek itu saat inipun telah berubah. Aku perhatikan ucapan-ucapan mereka ketika tak sengaja tubuh ini berpapasan dengan sosok-sosok bocah kecil disamping kiri dari arah berlawanan. Aku sendiri merasa malu dengan mereka. Dengan usia yang sudah tidak dapat dikatakan kecil atau bahkan remaja lagi, aku tidak paham dengan apa yang mereka ucapkan. Apa aku telalu gaptek? Ataukah karena ketidaktertarikanku menyentuh game online telah membuatku kurang gaul?

Masa bodoh lah. Keinginan kuatku tetap satu. Aku ingin menghidupkan kembali permainan tradisional yang selama ini telah terlupakan dan telah tersingkirkan. Aku ingin menyadarkan betapa meruginya ketika anak-anak itu harus merogoh kocek yang mereka dapatkan dari hasil memperkosa kantong-kantong orang tua mereka demi game online, sementara bayak permainan menarik yang tidak membutuhkan biaya dapat mereka lakukan bersama-sama. Selodor tetaplah selodor. Selodor kini telah menjadi wacana asing yang telah ditanggalkan. Selodor telah menyerupai legenda rakyat yang hanya terjadi satu kali saja, yaitu masa lalu. Selodor, semoga suatu hari nanti kau temukan hidupmu lagi. Semoga anak-anak kecil itu dapat menginjak-injak garis yang menjadi ciri khasmu itu. Selodor. . .

1 komentar:

  1. Memperkosa kantong-kantong orang tua. Hahaha siip mas. Keep write ^^

    BalasHapus