TANGGALNYA PEJALAN KAKI
Panas
terik matahari membakar kulit kecoklatanku. Klakson-klakson bersahut-sahutan
terdengar oleh telingaku. Seperti akan pecah saja gendang telinga ini.
“Tiiinnnnnn” bunyi kencang klakson sebuah mobil mewah di sebelahku semakin
memperpanas suasana, ditambah lagi para pengendara kuda besi yang seolah-olah
tidak mau kalah membunyikan klakson mereka dengan maksud memberikan sebuah kode
bagi pengendara-pengendara didepannya. Tiba-tiba disampingku muncul mobil pick up lengkap dengan muatannya yang
berisi kepala-kepala hitam berbadan putih penuh bulu, kambing ettawa. Lengkap
sudah berbagai asesoris siang yang terik hari ini. Sementara aku lihat pada
tiang dengan angka elektronik di depan masih menunjukkan angka 35 yang
perlahan-lahan mundur. Masih setengah menit lagi.
Ketika
aku palingkan wajahku ke sisi kiri, terlihat kebiasaan yang sudah sering aku
lihat di kota-kota besar termasuk di perempatan lampu merah ITN ini. Tidak
sedikit pengemudi motor yang berusaha naik ke trotoar untuk mencari celah-celah
agar mereka bisa keluar dari kemacetan yang luar biasa siang ini. Seolah-olah
telah menjadi alternative road bagi mereka, mulai dari motor matic, manual, kopling, trail, hingga motor harga 30 juataan
diatas pun tidak absen melewati jalan yang sejatinya hanya diperuntukkan bagi
pejalan kaki tersebut. Tak terasa angka mulai berubah menjadi warna hijau
menunjukkan nilai 40. Suara klakson semakin memekikkan telingaku. “sabar hoy!”
kata-kata itu keluar dari beberapa pengendara motor yang diklakson oleh mobil
x-trail hitam di belakangnya. Tak jarang ada juga pengendara yang mengeluarkan
kata-kata jorok seperti misalnya, “tttiiiiiiiiittttt(sensor)”.
Aku
perlahan-lahan menarik handle gas
motorku. Aku terkejut ketika di sisi kiri depan jalan telah berdiri
petugas-petugas polisi lengkap dengan sabuk putihnya memberhentikan
pengendara-pengendara yang nekat memakai trotoar sebagai jalan alternatif
seperti apa yang aku lihat tadi. Pikirku dalam hati, “kapoookkk.hahahaha”.
Bukan aku namanya kalau tidak penasaran dengan segala sesuatu. Segera aku
menuju lebih berada di depan kerumunan polisi lalu lintas yang siang itu siap
membuka surat tilangnya. Aku parkirkan motorku di sebelah kiri jalan, ku
tinggalkan motor itu sendiri dan segera menuju kerumunan yang telah menarik
minatku untuk menyaksikannya.
“selamat
siang bapak”
“iya
selamat siang”
“boleh
saya melihat STNK, SIM, dan KTPnya pak?”
“sebentar
pak saya cari”
“baik
pak”
Pertanyaan
yang sudah menjadi jurus andalan bapak-bapak polisi untuk si pelanggar lalu
lintas. Aku sudah tidak asing dengan pertanyaan itu. Pengalamanku ditilang
waktu masih sekolah sudah menggunung. Hehehe.
”ini
pak”
“baik
saya lihat dulu. Bapak kami tilang karena bapak sudah tidak mematuhi peraturan
lalu lintas”.
“tidak
bisa, apa salah saya pak?”
“bapak
telah menggunakan trotoar untuk menerobos antrian lampu merah. Dengan kata lain
bapak tidak menggunakan jalan dengan semestinya”.
“saya
cumin ikut-ikutan pak, itu tuh motor ninja warna merah yang nerobos duluan.
Jadi semuanya ikuti dia dari belakang.”
“iya,
kami tahu. Semua yang melanggar kami tilang.”
“gimana
toe pak! jangan salahkan kami, petugas kurang mengarahkan lalu lintas. Jadinya
macet dimana-mana. Jangan salahkan kami juga kalau kami pakai trotoar buat
jalan, wong pejalan kakinya nggak ada,
udah pada pakek motor. Eman lek
trotoare nggak digawe tah.”
Cekcok
pun tidak dapat dihindarkan antara petugas ketertiban lalu lintas dengan
pengendara nakal tersebut. Karena
gosip aku rasa sudah cukup, maka aku kembali menuju ke motorku untuk
melanjutkan perjalanan pulang dari ngampus. Sepanjang perjalanan aku berfikir
disertai cekikikan dalam hati. Ada
benarnya juga orang tadi. Kata-kata lha
wong pejalan kakinya udah pakek motor menjadi hal menarik yang menggelitik
otakku.
Bayangkan,
bapak pelanggar lalu lintas tadi tentunya bukan tidak pernah mikir mengeluarkan kalimat tersebut.
Justru bapak itu berfikir dengan melihat fenomena sudah semakin jarangnya
trotoar digunakan oleh pejalan kaki. Berkat bapak itu pula aku sendiri merasa
salah dan menyadari juga kalau trotoar sudah tidak diperankan dengan semestinya
lagi. Pengguna kendaraan bermotor yang semakin tahun semakin menggeludak,
sedangkan kondisi jalan masih stagnan
menyebabkan ketidakseimbangan dalam hal lalu lintas. Jumlah volume kendaraan
tidak seimbang dengan jalan yang tersedia. Siapa yang salah? kalau pertanyaan
yang keluar dari mulut kita seperti itu, maka tidak ada bedanya dengan
pertanyaan yang berbunyi “dulu mana telor sama ayam?”. Pasti jawabannya mulek tidak pernah didapatkan jawaban
pasti.
Negara
kita adalah negara konsumsi. Setiap tahun, jumlah kendaraan yang diimpor di
negara tercinta ini selalu bertambah. Apalagi belum lama dan belum terlupakan
dari ingatan kita adanya program mobil murah yang diluncurkan pemerintah.
Haloooo kok gendeng rek?. Program tersebut dimaksudkan agar
seluruh lapisan masyarakat bisa menikmati fasilitas mobil. Baikkah? I don’t know how your perception about that.
Yang jelas bisa kita lihat hasilnya seperti apa yang terjadi di perempatan traffic light ITN Malang. Bisa kita
bayangkan bagaimana kondisi di ibu kota ya.
Untuk
mengatasi hal tersebut, kita harus segera bergerak dimulai dari diri sendiri.
Sudah saatnya kita peduli dengan kesemrawutan lalu lintas disekitar. Sudah
waktunya mencintai lagi jalan kaki, menggunakan angkot untuk mengurangi volume
kendaraan dan beralih menggunakan sepeda yang lebih ramah polusi dan alternatif
penyembuh penyakit akut, yaitu macet. Solusi-solusi yang lain aku rasa semua lebih
mengerti dan lebih bijak untuk bertindak. Jadi ayo kita lakukan sekarang. Yang
pasti terima kasih untuk bapak di perempatan ITN yang telah melanggar peratural
lalu lintas sekaligus mengingatkanku untuk menulis ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar