Senin, 23 Desember 2013

TANGGALNYA PEJALAN KAKI
Panas terik matahari membakar kulit kecoklatanku. Klakson-klakson bersahut-sahutan terdengar oleh telingaku. Seperti akan pecah saja gendang telinga ini. “Tiiinnnnnn” bunyi kencang klakson sebuah mobil mewah di sebelahku semakin memperpanas suasana, ditambah lagi para pengendara kuda besi yang seolah-olah tidak mau kalah membunyikan klakson mereka dengan maksud memberikan sebuah kode bagi pengendara-pengendara didepannya. Tiba-tiba disampingku muncul mobil pick up lengkap dengan muatannya yang berisi kepala-kepala hitam berbadan putih penuh bulu, kambing ettawa. Lengkap sudah berbagai asesoris siang yang terik hari ini. Sementara aku lihat pada tiang dengan angka elektronik di depan masih menunjukkan angka 35 yang perlahan-lahan mundur. Masih setengah menit lagi.
Ketika aku palingkan wajahku ke sisi kiri, terlihat kebiasaan yang sudah sering aku lihat di kota-kota besar termasuk di perempatan lampu merah ITN ini. Tidak sedikit pengemudi motor yang berusaha naik ke trotoar untuk mencari celah-celah agar mereka bisa keluar dari kemacetan yang luar biasa siang ini. Seolah-olah telah menjadi alternative road bagi mereka, mulai dari motor matic, manual, kopling, trail, hingga motor harga 30 juataan diatas pun tidak absen melewati jalan yang sejatinya hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki tersebut. Tak terasa angka mulai berubah menjadi warna hijau menunjukkan nilai 40. Suara klakson semakin memekikkan telingaku. “sabar hoy!” kata-kata itu keluar dari beberapa pengendara motor yang diklakson oleh mobil x-trail hitam di belakangnya. Tak jarang ada juga pengendara yang mengeluarkan kata-kata jorok seperti misalnya, “tttiiiiiiiiittttt(sensor)”.
Aku perlahan-lahan menarik handle gas motorku. Aku terkejut ketika di sisi kiri depan jalan telah berdiri petugas-petugas polisi lengkap dengan sabuk putihnya memberhentikan pengendara-pengendara yang nekat memakai trotoar sebagai jalan alternatif seperti apa yang aku lihat tadi. Pikirku dalam hati, “kapoookkk.hahahaha”. Bukan aku namanya kalau tidak penasaran dengan segala sesuatu. Segera aku menuju lebih berada di depan kerumunan polisi lalu lintas yang siang itu siap membuka surat tilangnya. Aku parkirkan motorku di sebelah kiri jalan, ku tinggalkan motor itu sendiri dan segera menuju kerumunan yang telah menarik minatku untuk menyaksikannya.
“selamat siang bapak”
“iya selamat siang”
“boleh saya melihat STNK, SIM, dan KTPnya pak?”
“sebentar pak saya cari”
“baik pak”
Pertanyaan yang sudah menjadi jurus andalan bapak-bapak polisi untuk si pelanggar lalu lintas. Aku sudah tidak asing dengan pertanyaan itu. Pengalamanku ditilang waktu masih sekolah sudah menggunung. Hehehe.
”ini pak”
“baik saya lihat dulu. Bapak kami tilang karena bapak sudah tidak mematuhi peraturan lalu lintas”.
“tidak bisa, apa salah saya pak?”
“bapak telah menggunakan trotoar untuk menerobos antrian lampu merah. Dengan kata lain bapak tidak menggunakan jalan dengan semestinya”.
“saya cumin ikut-ikutan pak, itu tuh motor ninja warna merah yang nerobos duluan. Jadi semuanya ikuti dia dari belakang.”
“iya, kami tahu. Semua yang melanggar kami tilang.”
“gimana toe pak! jangan salahkan kami, petugas kurang mengarahkan lalu lintas. Jadinya macet dimana-mana. Jangan salahkan kami juga kalau kami pakai trotoar buat jalan, wong pejalan kakinya nggak ada, udah pada pakek motor. Eman lek trotoare nggak digawe tah.
Cekcok pun tidak dapat dihindarkan antara petugas ketertiban lalu lintas dengan pengendara nakal tersebut. Karena gosip aku rasa sudah cukup, maka aku kembali menuju ke motorku untuk melanjutkan perjalanan pulang dari ngampus. Sepanjang perjalanan aku berfikir disertai cekikikan dalam hati. Ada benarnya juga orang tadi. Kata-kata lha wong pejalan kakinya udah pakek motor menjadi hal menarik yang menggelitik otakku.
Bayangkan, bapak pelanggar lalu lintas tadi tentunya bukan tidak pernah mikir mengeluarkan kalimat tersebut. Justru bapak itu berfikir dengan melihat fenomena sudah semakin jarangnya trotoar digunakan oleh pejalan kaki. Berkat bapak itu pula aku sendiri merasa salah dan menyadari juga kalau trotoar sudah tidak diperankan dengan semestinya lagi. Pengguna kendaraan bermotor yang semakin tahun semakin menggeludak, sedangkan kondisi jalan masih stagnan menyebabkan ketidakseimbangan dalam hal lalu lintas. Jumlah volume kendaraan tidak seimbang dengan jalan yang tersedia. Siapa yang salah? kalau pertanyaan yang keluar dari mulut kita seperti itu, maka tidak ada bedanya dengan pertanyaan yang berbunyi “dulu mana telor sama ayam?”. Pasti jawabannya mulek tidak pernah didapatkan jawaban pasti.
Negara kita adalah negara konsumsi. Setiap tahun, jumlah kendaraan yang diimpor di negara tercinta ini selalu bertambah. Apalagi belum lama dan belum terlupakan dari ingatan kita adanya program mobil murah yang diluncurkan pemerintah. Haloooo kok gendeng  rek?. Program tersebut dimaksudkan agar seluruh lapisan masyarakat bisa menikmati fasilitas mobil. Baikkah? I don’t know how your perception about that. Yang jelas bisa kita lihat hasilnya seperti apa yang terjadi di perempatan traffic light ITN Malang. Bisa kita bayangkan bagaimana kondisi di ibu kota ya.

Untuk mengatasi hal tersebut, kita harus segera bergerak dimulai dari diri sendiri. Sudah saatnya kita peduli dengan kesemrawutan lalu lintas disekitar. Sudah waktunya mencintai lagi jalan kaki, menggunakan angkot untuk mengurangi volume kendaraan dan beralih menggunakan sepeda yang lebih ramah polusi dan alternatif penyembuh penyakit akut, yaitu macet.  Solusi-solusi yang lain aku rasa semua lebih mengerti dan lebih bijak untuk bertindak. Jadi ayo kita lakukan sekarang. Yang pasti terima kasih untuk bapak di perempatan ITN yang telah melanggar peratural lalu lintas sekaligus mengingatkanku untuk menulis ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar