Selasa, 24 Desember 2013

TAK KU TEMUI LAGI TANGIS SEPERTI MALAM ITU
Suasa kemeriahan tadi malam membuatku sedikit terhibur. Penat perlahan-lahan meninggalkan fikiranku yang semenjak pagi hari selalu mengisi bagaikan kopi yang selalu setia ada pada cangkirnya. Penat bagiku sudah seperti dua sisi magnet positif dan negatif, dimana keduanya saling terikat. Ya, semua orang pasti memiliki penat masing-masing yang selalu update mengikuti rutinitas yang ia jalani. Aku tidak ingin berlama-lama melihat kopi itu selalu diam pada cangkirnya. Perlahan-lahan kutuangkan air putih sedikit demi sedikit sampai warna gelap itu menjadi bening kembali, dan endapan kental pekat itupun terangkat meluap meninggalkan cangkir itu juga. Sedikit lega rasanya melihat teman-teman duduk di kursi bagian belakang, karena dengan begitu aku akan mendapatkan lawan bicara. Kuarahkan kaki yang mulai melemas ini kearah dimana mereka duduk menikmati acara yang cukup meriah malam itu. Sepontan kuarahkan tanganku untuk meraih kursi yang semenjak tadi ia gunakan untuk menampung kaki yang ia julurkan ke depan. Tempat strategis kudapatkan, yang mengarah tepat ke panggung, sehingga aku dapat melihat dengan utuh dekorasi yang terpasang elok dan megah.
“udah lama kamu disini? Dimana anak-anak?” tanyaku.
“eh kapan datang? Kita udah dari tadi bro. Kita cuma berdua. Mana gandenganmu?”
“barusan ini, gandengan apa, orang aku sendiri kesini”.
“ohya bro, selamat ya atas terpilihmu jadi petinggi komisi! Lanjutkan”.
“lho, kalian tau dari siapa? Iya terima kasih, aku mohon support dan bimbingan dari kalian.”
“mitra kita luas loh.hehe…oke, kita semua bakal selalu support kamu kok. Kerjakan semua sesuai hati nurani ya”
“insyallah siap”.
Percakapan itu mengawali kehangatan pertemuanku dengan mereka. Lega rasanya semenjak pagi kesibukan yang aku jalani dapat terobati dengan suara alunan musik-musik yang secara berkala berganti genre, dari musik ska, pop, rock, hingga reggae. Gesture tubuh yang sejak tadi ku atur sedemikian rupa agar terlihat sedikit berwibawa, malam itu perlahan sendi-sendi tubuhku berubah haluan mengikuti alunan musik yang mengaung keras.
Sembari menikamati acara yang terkemas rapi tersebut, aku melihat sosok teman yang semenjak kedatanganku selalu berpindah tempat. Aku perhatikan dia berada di pojok kiri depan panggung hiburan bersama dengan panitia acara lainnya. Tidak lama kemudian langkah kakinya mengarah ke tengah bagian tepi lokasi acara. Lima lagu dari pengisi acara telah usai, ku lihat posisinya kini telah berganti di ujung belakang dekat pintu masuk tamu.
Sekejab aku berdiri melepas kebosanan tubuhku yang semenjak datang tadi hanya duduk menikmati alunan-alunan musilk yang teratur. Ku arahkan langkah kaki ini menuju sebuah ruangan di sisi ruangan besar bekas sosok temanku berdiri tadi. Masih seperti biasanya, aroma ruang kecil di tempat ini tidak jauh berbeda ketika aku keluarkan rupiahku untuk masuk ke toilet umum yang berada di alun-alun kota. Terdapat dua toilet yang saling berhadapan dan ditengah terpasang sebuah watafel lengkap dengan cermin yang lumayan besar menghadap gagah kepada setiap pengunjung yang melewatinya. Tidak dapat aku sangkal kalau cermin itu telah menarik wajahku untuk menghadapkan pandanganku padanya. Aku tuang sedikit air yang keluar dari kucuran kran di watafel, lalu kuarahkan ke arah rambut yang sedikit berantakan karena bekas helm yang aku pakai saat menuju tempat ini. Kini aku sedikit rapi dengan balutan jumper abu-abuku. Ketika keluar dari toilet, aku masih melihat dia berada di belakang dekat pintu masuk pengunjung bersama dengan temanku yang sama sepertinya sebagai panitia acara malam itu. Keinginanku untuk menghampirinya semenjak rencanaku pergi ke gedung besar itu aku implementasikan segera.
“wah yang lagi sibuk, capek len?”
“eh kamu Day, kapan kesini?”
“belum lama sih, waktu aku masuk, kamu ada di depan tadi. Sibuk banget ya?”
“hehe..sekarang udah nggak kok. Gimana rapat plenonya? Sukses?”
“Alhamdulillah sukses, mohon dukungan dan do’anya ya”
“hehe siap! Maju terus ya Day”
“makasih Len. Ohya, jangan sampai nangis lagi loh”
“hehe..enggak kok, itu kan dulu. Sekarang semuanya udah beda. Acaranya juga beda”.
“wah bagus. Jangan cengeng lagi ya. Dinikmati aja acaranya, nggak usah dibuat beban”
“iya Day pasti, ini tempat duduknya. Nggak enak lo makan kue sambil berdiri”
Dia mempersilahkanku duduk di kursi yang ia ambil dari tempat yang tidak jauh dari kami berada. Kami melanjutkan obrolan-obrolan seputar kegiatan dan seputar kuliah sambil aku menikmati kue yang diberikan oleh salah satu panitia acara. Aku diperlakukan layaknya seorang menteri pertanian yang menengok sawah petani di desa. Diantara sekian pengunjung malam itu, mungkin hanya aku yang mendapatkan konsumsi, ya meskipun awalnya aku menanyakan beberapa kali tentang konsumsi ke panitia dengan harapan dapat. Dan akhirnya terkabul juga. hehe. Obrolan kami yang semakin mengalir, membuat air dalam cangkir itu semakin jernih. Kini tidak kulihat sedikitpun ampas kopi itu mengendap di cangkirku lagi.
Obrolan kami berkahir diikuti dengan berakhirnya juga acara pada malam itu. “selamat ya, acaranya meriah dan sukses, salam ke panitia yang lain”. “terima kasih ya Day”. Sambil perlahan meninggalkanku menuju teman-teman panitia lain yang telah berkumpul di depan panggung merayakan keberhasilan mereka menjalankan acara malam itu. Tanganku seolah-olah mengayun dengan sendirinya memberikan jabatan tangan kepada panitia-panitia yang melintas didepanku. Bibirku juga secara otomatis mengikuti komando memori dasyat ini untuk mengucapkan kata selamat kepada mereka. Kuarahkan kakiku untuk meninggalkan tempat itu.
Ada hal yang membuatku senang ketika melihat temanku memasang wajah yang gembira. Sepanjang acara, mimik wajahnya dibalut oleh senyuman khas gadis sunda yang menunjukkan bahwa ia menikmati peran yang ia lakukan. Hal itu sangat jauh berbeda ketika aku dan dia masih berada pada satu kepengurusan kepanitiaan. Ketika itu dalam acara yang sama, tetapi dengan muatan yang lebih padat kami seolah-olah bekerja tanpa pengertian dari panitia yang lain. Dies natalis tahun lalu berbeda jauh dengan tahun ini, dimana tahun lalu ada event pemilihan putra-putri jurusan. Setelah pemenang diumumkan, ada acara menjamu para peserta lomba dengan makan malam. Ketika itu kami berdua menjadi babu untuk membereskan ruangan, piring, gelas, sendok, dan sisa nasi yang berantakan di ruang makan, padahal itu bukan tugas kami. Panitia yang lain menikmati acara dengan melupakan tugas mereka sebagai panitia.
Sontak temanku ini menangis melihat betapa memprihatinkannya fenomena tersebut. Sambil mengusap air matanya, ia terus dengan sabar membereskan kesemrawutan ruang makan waktu itu. Akupun yang kebetulan berada di dapur saat itu langsung membantunya, sehingga hanya kami berdua yang merangkap jabatan sebagai sie kebersihan malam itu. Setelah semua beres, panitia yang lain nongol dan langsung menyantap sisa makanan yang bisa dimakan. Setelah acara bubar, semua mendapat tugas merapikan kursi-kursi dan membersihkan sampah-sampah yang berserakan di hampir semua sudut ruangan. Tetapi anehnya, hanya beberapa orang saja yang melaksanakan tugas itu, termasuk aku dan temanku itu. Kekesalanpun terjadi. Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat dahulu, meninggalkan temanku yang berwajah basah dipenuhi air mata yang bercampur dengan keringat jerih payahnya berjuang dalam mempertanggungjawabkan perannya.
Kebanggan luar biasa dari dalam hati ini terhadap sosok itu. Dia adalah sosok pekerja keras, penuh komitmen, dan selalu tanggap dalam segala hal. Dia organisatoris sejati. Aku yakin, jika wanita-wanita Indonesia memiliki sifat-sifat yang dimiliki oleh gadis sunda yang menjadi temanku tersebut, Indonesia akan maju.
Kini haru itu mengarah kepadaku. Aku terharu dan bangga karena sudah tidak kutemukan lagi tangis seperti malam itu, malam ketika acara serupa berlangsung di tahun yang lalu. Lena, you’re my inspiration to be better.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar