TAK KU TEMUI LAGI TANGIS SEPERTI
MALAM ITU
Suasa
kemeriahan tadi malam membuatku sedikit terhibur. Penat perlahan-lahan
meninggalkan fikiranku yang semenjak pagi hari selalu mengisi bagaikan kopi
yang selalu setia ada pada cangkirnya. Penat bagiku sudah seperti dua sisi
magnet positif dan negatif, dimana keduanya saling terikat. Ya, semua orang
pasti memiliki penat masing-masing yang selalu update mengikuti rutinitas yang ia jalani. Aku tidak ingin
berlama-lama melihat kopi itu selalu diam pada cangkirnya. Perlahan-lahan
kutuangkan air putih sedikit demi sedikit sampai warna gelap itu menjadi bening
kembali, dan endapan kental pekat itupun terangkat meluap meninggalkan cangkir
itu juga. Sedikit lega rasanya melihat teman-teman duduk di kursi bagian
belakang, karena dengan begitu aku akan mendapatkan lawan bicara. Kuarahkan
kaki yang mulai melemas ini kearah dimana mereka duduk menikmati acara yang
cukup meriah malam itu. Sepontan kuarahkan tanganku untuk meraih kursi yang
semenjak tadi ia gunakan untuk menampung kaki yang ia julurkan ke depan. Tempat
strategis kudapatkan, yang mengarah tepat ke panggung, sehingga aku dapat
melihat dengan utuh dekorasi yang terpasang elok dan megah.
“udah
lama kamu disini? Dimana anak-anak?” tanyaku.
“eh
kapan datang? Kita udah dari tadi bro. Kita cuma berdua. Mana gandenganmu?”
“barusan
ini, gandengan apa, orang aku sendiri kesini”.
“ohya
bro, selamat ya atas terpilihmu jadi petinggi komisi! Lanjutkan”.
“lho,
kalian tau dari siapa? Iya terima kasih, aku mohon support dan bimbingan dari
kalian.”
“mitra
kita luas loh.hehe…oke, kita semua bakal selalu support kamu kok. Kerjakan
semua sesuai hati nurani ya”
“insyallah
siap”.
Percakapan
itu mengawali kehangatan pertemuanku dengan mereka. Lega rasanya semenjak pagi
kesibukan yang aku jalani dapat terobati dengan suara alunan musik-musik yang
secara berkala berganti genre, dari
musik ska, pop, rock, hingga reggae. Gesture
tubuh yang sejak tadi ku atur sedemikian rupa agar terlihat sedikit berwibawa,
malam itu perlahan sendi-sendi tubuhku berubah haluan mengikuti alunan musik
yang mengaung keras.
Sembari
menikamati acara yang terkemas rapi tersebut, aku melihat sosok teman yang semenjak
kedatanganku selalu berpindah tempat. Aku perhatikan dia berada di pojok kiri
depan panggung hiburan bersama dengan panitia acara lainnya. Tidak lama
kemudian langkah kakinya mengarah ke tengah bagian tepi lokasi acara. Lima lagu
dari pengisi acara telah usai, ku lihat posisinya kini telah berganti di ujung
belakang dekat pintu masuk tamu.
Sekejab
aku berdiri melepas kebosanan tubuhku yang semenjak datang tadi hanya duduk
menikmati alunan-alunan musilk yang teratur. Ku arahkan langkah kaki ini menuju
sebuah ruangan di sisi ruangan besar bekas sosok temanku berdiri tadi. Masih
seperti biasanya, aroma ruang kecil di tempat ini tidak jauh berbeda ketika aku
keluarkan rupiahku untuk masuk ke toilet umum yang berada di alun-alun kota.
Terdapat dua toilet yang saling berhadapan dan ditengah terpasang sebuah watafel lengkap dengan cermin yang
lumayan besar menghadap gagah kepada setiap pengunjung yang melewatinya. Tidak
dapat aku sangkal kalau cermin itu telah menarik wajahku untuk menghadapkan
pandanganku padanya. Aku tuang sedikit air yang keluar dari kucuran kran di watafel, lalu kuarahkan ke arah rambut
yang sedikit berantakan karena bekas helm yang aku pakai saat menuju tempat
ini. Kini aku sedikit rapi dengan balutan jumper
abu-abuku. Ketika keluar dari toilet, aku masih melihat dia berada di belakang
dekat pintu masuk pengunjung bersama dengan temanku yang sama sepertinya
sebagai panitia acara malam itu. Keinginanku untuk menghampirinya semenjak
rencanaku pergi ke gedung besar itu aku implementasikan segera.
“wah
yang lagi sibuk, capek len?”
“eh
kamu Day, kapan kesini?”
“belum
lama sih, waktu aku masuk, kamu ada di depan tadi. Sibuk banget ya?”
“hehe..sekarang
udah nggak kok. Gimana rapat plenonya? Sukses?”
“Alhamdulillah
sukses, mohon dukungan dan do’anya ya”
“hehe
siap! Maju terus ya Day”
“makasih
Len. Ohya, jangan sampai nangis lagi loh”
“hehe..enggak
kok, itu kan dulu. Sekarang semuanya udah beda. Acaranya juga beda”.
“wah
bagus. Jangan cengeng lagi ya. Dinikmati aja acaranya, nggak usah dibuat beban”
“iya
Day pasti, ini tempat duduknya. Nggak enak lo makan kue sambil berdiri”
Dia
mempersilahkanku duduk di kursi yang ia ambil dari tempat yang tidak jauh dari
kami berada. Kami melanjutkan obrolan-obrolan seputar kegiatan dan seputar
kuliah sambil aku menikmati kue yang diberikan oleh salah satu panitia acara.
Aku diperlakukan layaknya seorang menteri pertanian yang menengok sawah petani
di desa. Diantara sekian pengunjung malam itu, mungkin hanya aku yang
mendapatkan konsumsi, ya meskipun awalnya aku menanyakan beberapa kali tentang
konsumsi ke panitia dengan harapan dapat. Dan akhirnya terkabul juga. hehe.
Obrolan kami yang semakin mengalir, membuat air dalam cangkir itu semakin
jernih. Kini tidak kulihat sedikitpun ampas kopi itu mengendap di cangkirku
lagi.
Obrolan
kami berkahir diikuti dengan berakhirnya juga acara pada malam itu. “selamat
ya, acaranya meriah dan sukses, salam ke panitia yang lain”. “terima kasih ya
Day”. Sambil perlahan meninggalkanku menuju teman-teman panitia lain yang telah
berkumpul di depan panggung merayakan keberhasilan mereka menjalankan acara
malam itu. Tanganku seolah-olah mengayun dengan sendirinya memberikan jabatan
tangan kepada panitia-panitia yang melintas didepanku. Bibirku juga secara
otomatis mengikuti komando memori dasyat ini untuk mengucapkan kata selamat
kepada mereka. Kuarahkan kakiku untuk meninggalkan tempat itu.
Ada
hal yang membuatku senang ketika melihat temanku memasang wajah yang gembira.
Sepanjang acara, mimik wajahnya dibalut oleh senyuman khas gadis sunda yang
menunjukkan bahwa ia menikmati peran yang ia lakukan. Hal itu sangat jauh
berbeda ketika aku dan dia masih berada pada satu kepengurusan kepanitiaan.
Ketika itu dalam acara yang sama, tetapi dengan muatan yang lebih padat kami
seolah-olah bekerja tanpa pengertian dari panitia yang lain. Dies natalis tahun
lalu berbeda jauh dengan tahun ini, dimana tahun lalu ada event pemilihan putra-putri jurusan. Setelah pemenang diumumkan,
ada acara menjamu para peserta lomba dengan makan malam. Ketika itu kami berdua
menjadi babu untuk membereskan
ruangan, piring, gelas, sendok, dan sisa nasi yang berantakan di ruang makan,
padahal itu bukan tugas kami. Panitia yang lain menikmati acara dengan
melupakan tugas mereka sebagai panitia.
Sontak
temanku ini menangis melihat betapa memprihatinkannya fenomena tersebut. Sambil
mengusap air matanya, ia terus dengan sabar membereskan kesemrawutan ruang
makan waktu itu. Akupun yang kebetulan berada di dapur saat itu langsung
membantunya, sehingga hanya kami berdua yang merangkap jabatan sebagai sie
kebersihan malam itu. Setelah semua beres, panitia yang lain nongol dan
langsung menyantap sisa makanan yang bisa dimakan. Setelah acara bubar, semua
mendapat tugas merapikan kursi-kursi dan membersihkan sampah-sampah yang berserakan
di hampir semua sudut ruangan. Tetapi anehnya, hanya beberapa orang saja yang
melaksanakan tugas itu, termasuk aku dan temanku itu. Kekesalanpun terjadi. Aku
memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat dahulu, meninggalkan temanku yang
berwajah basah dipenuhi air mata yang bercampur dengan keringat jerih payahnya
berjuang dalam mempertanggungjawabkan perannya.
Kebanggan
luar biasa dari dalam hati ini terhadap sosok itu. Dia adalah sosok pekerja
keras, penuh komitmen, dan selalu tanggap dalam segala hal. Dia organisatoris
sejati. Aku yakin, jika wanita-wanita Indonesia memiliki sifat-sifat yang
dimiliki oleh gadis sunda yang menjadi temanku tersebut, Indonesia akan maju.
Kini
haru itu mengarah kepadaku. Aku terharu dan bangga karena sudah tidak kutemukan
lagi tangis seperti malam itu, malam ketika acara serupa berlangsung di tahun
yang lalu. Lena, you’re my inspiration to be better.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar